Monday, April 17, 2017

Pelangi?

Perbedaan.

Satu kata, seribu makna, berjuta cerita.

Sebuah kata ini seharusnya bisa menjadi rangkaian yang indah seperti pelangi. Ya, kamu tau kan pelangi itu terdiri dari warna-warna yang berbeda? Indah kan?

Tapi pada kenyataannya, perbedaan justru dijadikan orang sebagai alasan untuk menyakiti orang lain. Bahkan satu perbedaan sederhana saja, bisa membuat sebuah perdamaian hancur.

Bicara soal perbedaan pada manusia di zaman ini, pastinya sudah muncul beberapa kata di pikiran kalian. Perbedaan kaya-miskin, tingkat pendidikan, kelas sosial, cara bergaul, warna kulit, logat bicara, bentuk mata, bahasa, cara menyembah Tuhan, juga cara memperlakukan sesama.
Tunggu dulu, yang terakhir, apakah benar seharusnya berbeda?

Saya orang Indonesia, negara dimana lambang negara nya menyerukan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Negara, di mana kata “adil” disebutkan dua kali dalam lima sila nya.

Indonesia mengakui segala suku di negerinya, yah, walaupun anak kesayangannya duduk di pulau Jawa, sedangkan anak lainnya mungkin sesekali ditengok, eh, atau mungkin akan diakui ketika akan “diculik” tetangga. Hmm, yang penting diakui dan terdata lah.
Indonesia juga mengakui 6 agama di negaranya; Kong Hu Chu, Katolik, Hindu, Kristen, Buddha, dan Islam. Eh, urutannya betul atau salah ya? Tapi semuanya punya hak yang sama kan? Jadi urutan yah tidak terlalu penting lah.

Saya yakin, semua suku dan agama pasti mengajarkan umatnya untuk melakukan hal baik, saling mengasihi dan mencintai, saling menghormati dan tolong-menolong, bla-bla-bla.......
Kenapa bla bla bla? Karena biasanya orang-orang tidak suka membaca teori terlalu panjang.
Ya, pada kenyataannya, ketika situasi berkaitan dengan kekuasaan, berkaitan dengan politik, kepentingan pribadi, dan A dan B dan C, situasi ini berbalik. Ajaran-ajaran baik seakan dilupakan dan kepercayaan seakan dijadikan nama “gank” yang siap bertarung di jalan. Kutipan-kutipan untuk patuh pada Tuhan disalahgunakan untuk menjadi senjata yang menghakimi benar dan salah.

Lalu, ketika bicara soal hak, pasti dikatakan bahwa setiap manusia memiliki Hak Asasi Manusia, bahwa semua manusia itu sama. Kita harus berteman dengan siapa saja, jangan memandang ia berasal dari kelompok mana. Namun, ketika bicara soal percintaan, mengapa perbedaan menjadi suatu hal yang begitu krusial? Bukankah semua agama mengajarkan cinta? Saya tahu benar bahwa pendapat saya akan ditentang banyak orang, bahkan mungkin agama dan suku saya sendiri. Namun apalah arti suku apabila semua mempunyai hak yang sama? Dan apalah arti agama apabila semuanya mengajarkan hal baik? Saya mengerti bahwa setiap agama mengharapkan umatnya untuk berpasangan dengan seseorang dari agama yang sama. Tetapi, apa cinta memilih dan dipilih? Apakah ketika saya mengetahui sebuah perbedaan, perasaan itu akan hilang? Dan apakah ketika saya menemukan kesamaan, perasaan itu harus muncul? Atau mungkin perjodohan harus tetap dilestarikan dan perasaan dikesampingkan?
Mengapa harus sama? Mengapa tiba-tiba perbedaan itu menjadi sangat jelek dan menyakiti?

Saya mengalami dan mendengar banyak cerita tentang perbedaan itu. Perbedaan suku dan agama yang akhirnya memisahkan dua orang. Dua orang yang telah saling menerima kekurangan-kekurangan pasangannya hingga yang paling buruk – namun tak bisa menerima perbedaan pasangannya. Jadi, perbedaan itu lebih buruk daripada segala kekurangan lainnya?

Faktanya, banyak perubahan positif yang dilakukan di negeri barat untuk menghilangkan batas-batas perbedaan antar manusia, dan berefek pada negara ini. Semoga saja, cepat atau lambat perbedaan ini juga akan diterima di Indonesia.

Sadarkah bahwa negara-negara lain bahkan mengagumi banyaknya budaya dan keragaman di Indonesia? Mereka menyebut semua itu indah. Kita, yang di dalam negara ini, kenapa justru seperti membenci keragaman ini? Apa yang kita lakukan?

Akhir-akhir ini, saya lebih sering mengekspos kegiatan agamais dan kutipan rohani menurut agama saya. Beberapa orang mungkin kesal. Mungkin ada yang berpikir saya ingin mengganggu agama lainnya? Mungkin ada yang berpikir saya sok beriman atau fanatik? Terserah, karena setiap manusia punya hak untuk berpikir.
Nyatanya, saya melakukan itu semua untuk mengatakan pada dunia bahwa saya, kaum minoritas di negara ini eksis, dan saya berani menjadi saya. Saya ingin memberitahu dunia bahwa Indonesia kaya. Kaya, karena perbedaan kita yang begitu banyak, membuat Indonesia berwarna, seperti pelangi. Saya juga ingin memberi semangat bagi orang lain yang merasa dirinya berada di kelompok minoritas, agar mereka tidak malu dan meninggalkan kelompoknya, agar mereka tetap percaya diri untuk menjadi mereka sendiri. Karena kita dan mereka punya hak yang sama untuk mengajak teman-temannya beribadah, melalui media sosial.

Walaupun warna “nila” dalam pelangi tidak sejelas merah, kuning, dan hijau, tetapi “nila” adalah bagian dari pelangi.
Pelangi tidak akan menjadi pelangi, apabila warnanya hanya merah.
Pelangi tidak akan indah dan dikagumi, apabila warnanya hanya kuning.
Pelangi, ya warna-warni.



-RAL-

17/04/2017 – 2:32 AM

No comments:

Post a Comment