Tuesday, June 6, 2017

Kita Indonesia.

Just a little page of my opinion.

Jarang-jarang saya nulis kayak gini. Jujur saya gaktau apa tujuan saya untuk nulis tulisan ini. Saya Cuma pengen ceritain apa yang saya rasain dan pikirin.

Belakangan ini, isu SARA lagi-lagi jadi masalah di Indonesia, bahkan di dunia.
Sedih banget rasanya. Bukannya Indonesia harusnya jadi contoh negara yang punya banyak SARA dan hidup berdampingan dengan rukun? Karena seingat saya, dari SD sampai kuliah, gitu yang diajarin di Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn/PPKN/Pendidikan Pancasila).

Kadang sangkin sedihnya, saya suka mikir, kenapa sih, kita harus diciptain beda-beda? Kenapa sih harus ada banyak agama di dunia ini? Tapi terus saya flashback lagi.

Saya lahir di keluarga Katolik, dan sampai sekarang saya memeluk agama Katolik. Papa saya keturunan Manado dan Mama keturunan Batak. Saya lahir di Papua, dan dari SMP sampai sekarang di Jakarta.

Dari kecil saya udah biasa jadi minoritas. Di Papua, di sekolah, mayoritas beragama Islam dan Kristen, sementara kami murid Katolik hanya berlima. Namun semuanya baik-baik saja.
Pindah ke Jakarta, saya masuk ke sekolah Katolik di BSD. Memang mayoritas siswa siswi beragama Katolik, tetapi hampir semuanya keturunan Tionghoa. Namun semuanya baik-baik saja.
Lalu saya masuk kuliah di Jakarta Selatan. Mayoritas di kampus ini Muslim. Dari awal masuk, saya agak menyesuaikan dengan lingkungan baru, karena di SMP dan SMA saya, salam tidak dibuka dengan “Assalamualaikum” dan tidak terbiasa mencium tangan guru. Namun saya bisa beradaptasi dan tidak ada masalah.
Di semester 6, saya pergi ke Bali untuk internship selama setahun. Lagi-lagi, saya minoritas karena hampir semua di hotel tempat internship adalah orang Bali yang beragama Hindu. Namun mereka merangkul saya, sangat welcome. Walaupun awalnya saya lebih banyak diam karena gak ngerti bahasa Bali, tapi lama-lama saya makin kenal dengan orang-orang sana dan semuanya berjalan dengan sangat baik. Bahkan membuat saya betah.

Di balik semua perjalanan saya yang baik-baik saja, memang, saya sadar isu SARA sudah menjadi masalah tersendiri yang turun temurun.

Di SMA, ada teman yang (maaf) Tionghoa dan takut sama (maaf lagi) pribumi Muslim. Ternyata dari kecil dia hidup di lingkungan yang itu-itu aja dan hanya lihat lingkungan luar dari berita. Lalu saya jelaskan bahwa dari kecil, saya berteman dengan teman-teman Muslim dan mereka baik, walaupun saya non-Muslim. Terorisme itu tidak sama dengan Muslim, dan Muslim bukan berarti teroris.

Lalu di kampus, ada teman yang (maaf lagi) Muslim dan berkata bahwa dia benci orang Tionghoa. Saya tidak tau, mungkin dari kecil dia juga hidup di lingkungan yang itu-itu aja dan belum pernah berteman dengan keturunan Tionghoa. Lalu saya jelaskan bahwa teman-teman terdekat saya adalah keturunan Tionghoa dan semuanya baik-baik saja walaupun saya bukan keturunan Tionghoa.

Saya pikir-pikir lagi, ternyata dengan hidup sebagai minoritas, justru saya bisa toleran terhadap teman-teman yang berbeda dengan saya, karena sudah terbiasa di lingkungan yang beda dengan saya, jadi perbedaan itu bukan masalah buat saya.

Di keluarga pun, ada tante saya yang Mualaf (masuk Islam) karena ikut suami. Otomatis saya punya dua sepupu yang Muslim. Semua baik-baik aja. Kita sering ke rumahnya kalau lebaran dan Tante juga sering jemput kita pulang dari gereja. Saya dan sepupu-sepupu juga main bareng, biasa aja.

Oh ya, tadi waktu ngobrol sama Mama, tiba-tiba saya ingat almarhum Opa. Opa orang yang baik. Baik banget. Beliau bukan kakek kandung, tapi ayah angkat Papa, karena waktu Mama dan Papa nikah, orang tua Papa udah gak ada. Opa Muslim, tapi Opa sayaaaaaaaang banget sama saya. Saya beruntung punya Opa angkat sebaik beliau, seenggaknya saya pernah ngerasain rasanya disayang sama sosok kakek. (Duh nangis pas nulis ini...) Keinget dulu setiap lebaran pasti kita ke rumah Opa, terus saya disuruh makan yang banyak, dibeliin kado. Masih nyimpen jaket pink “Barbie” dari Opa hehe. Kangen banget sama almarhum Opa Indrajid...


Pokoknya, suku apapun, agama apapun, ras apapun, pokoknya siapapun, kalau emang baik sama saya ya saya bakal baik kok. Nah iya, ngutip dari Gus Dur:
“Tidak penting apa pun agama atau sukumu.. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu..”
Saya nemuin komen-komen yang malah nyinyir; “ya penting lah agama” “agama kan pedoman hidup” “wah parah masa agama ga penting”.

*Hela nafas* Duh, maksudnya tuh bukannya agama gak penting sayang-sayangku, tapi saya percaya, maksudnya itu, berbuat baik ya berbuat baik aja. Semua orang bisa berbuat baik dan sebaliknya bisa juga berbuat tidak baik, tidak ditentukan agamanya, tapi tergantung orang itu bertindak. Ya masa misalkan ada orang kecelakaan, terus tanya dulu apa agamanya baru mau ditolong? Sebaliknya, emang copet milih-milih korbannya harus agama apa? Lalu emang ada kriteria harus agama apa buat jadi copet? Harus ada kriteria agama apa buat jadi dokter yang mengabdi di pedalaman? Berbuat baik itu gak mengenal perbedaan agama dan suku, kalo mau baik ya baik aja. Kalo mau jahat ya jahat aja.

Beralih ke masalah yang baru-baru ini bikin heboh. Pak Ahok. Mungkin sebagian dari kalian menganggap Pak Ahok menistakan agama Islam, lalu berimbas jadi membenci suku Tionghoa dan agama Kristen. Dan mungkin sebagian dari kalian menganggap Pak Ahok dikriminalisasi, lalu berimbas jadi membenci Muslim.

Well.... ini pendapat saya. Yang Pak Ahok maksudkan itu jangan mau dibohongi DENGAN MENGGUNAKAN surat tersebut. Maksudnya gimana ya, misalnya, ada cerita jaman dulu penjual gorengan keliling nikah sama anak Presiden. Nah terus sekarang ada seorang penjual gorengan bernama A ngefans sama anak Presiden. Terus temennya si B bilang “kamu pasti bisa nikah sama anak Presiden, soalnya dulu ada cerita blablabla”. Nah terus temennya si C bilang “jangan dengerin si B, jangan mau dibohongin DENGAN MENGGUNAKAN cerita itu”. Nah disini, maksud dia bukan berarti cerita itu bohong, cerita itu mungkin saja benar terjadi. Tetapi maksudnya C, si B menggunakan cerita tersebut sebagai sarana berbohong. Ngerti gak sih my point? Hehe jelas gak sih...

But... di sisi lain, Pak Ahok mungkin gak seharusnya ngomongin hal itu di depan banyak orang, mengingat agama itu hal yang sensitif, dan kata-kata itu kan yah bisa diartikan beda-beda sama orang. Dan mungkin karena Pak Ahok sendiri non-Muslim makanya mungkin kedengeran agak “nge-judge” agama Islam.

Lalu... in my holy opinion, siapa yang salah? Yang salah itu koruptor-koruptor dan orang-orang yang memperdaya rakyat dengan mengatasnamakan agama, demi dapetin kepentingan pribadi nya, ngerelain kesatuan negaranya sendiri dan jadi dalang buat “perang suku/agama”. Well siapapun itu. Ya ampun... masih kurang kaya ya? Mau beli apa sih Pak/Bu... Semoga cepat dibukakan hatinya ya sama Tuhan sesuai agamanya masing-masing.

Terus, ini menurut pendapat saya aja ya, peraturan yang dibuat banyak yang “karet” alias bisa multitafsir. I meant like ada pasal “perbuatan tidak menyenangkan” dan “menistakan agama”? Definisi tidak menyenangkan tu apasih? Menyenangkan itukan relatif, menyenangkan buat saya belum tentu menyenangkan buat dia ya kan? Lalu agama itu yaa urusan pribadi lah antara umat dan Tuhannya. Gak sekalian dibikin “menistakan suku” jadi kalo orang becanda-becanda rasis bisa kena pasal?
Kalau emang menistakan agama menjadi masalah yang menjadi concern nya pemerintah, sekarang saya tanya apa membakar rumah ibadah agama lain itu kurang menistakan agama? Inget gak, orang-orang yang bakar Kelenteng cuma dihukum sebulan penjara? I meant HELLO where’s the justice???

Well saya bukan orang yang gemar politik dll jadi bisa aja ya pendapat saya salah, di sini saya cuma menumpahkan apa yang ada di pikiran dan hati saya.

Intinya gini, saya cuma pengen berharap, boleh kan berharap? Semoga kita generasi muda, semakin pinter dan cerdas dalam menghadapi isu-isu yang dibuat sama orang-orang tertentu buat kepentingan pribadinya. Kita generasi muda harus lebih berwawasan dan ber-attitude, jangan mudah dipengaruhi. Saya yakin semua agama mengajarkan hal baik dan tidak mengajarkan saling membenci. Tidak perlu tanya “apa agamamu” untuk berteman. Selama kita baik dan toleran, orang gak akan peduli kamu itu agama apa, suku apa, ya berteman berteman aja. Masa iya sih, gara-gara politik jadi musuhan sama teman atau bahkan keluarga sendiri?

Dan tolong teman-temanku, kita ini negara Bhinneka Tunggal Ika, bukan negara beragama homogen. Jadi bertepatan dengan bulan Ramadhan, tolong lah, jangan dimarahin apalagi dibongkar-bongkar orang-orang yang jualan makanan. Kasian, mereka juga kan kerja buat hidup. Mendingan mereka jualan kan daripada nyolong dengan alasan buat mudik dll? Lagian kan kita juga tau, gak 100% rakyat Indonesia menjalankan puasa, jadi biarin lah orang yang gak puasa bisa makan dan minum, toh kita juga gak yang sengaja makan minum di depan orang yang puasa kan? Tempat makan pun di tutupin kain kan? Saya pun mau minum atau makan juga ngumpet dari orang yang puasa, walaupun banyak yang bilang “gakpapa, makan aja.” “gakpapa, kan emang tugas gue nahan nafsu” dan lain-lain. Tapi saya coba menghargai mereka.

Untuk teman-temanku yang Muslim, percayalah, kita gak benci kalian. Kita benci orang yang berbuat jahat dan mengatasnamakan agama kalian untuk melakukannya. Negara Arab bahkan mengatakan bahwa terorisme itu tidak dibenarkan. Jadi sudah jelas kan bahwa terorisme bukanlah Muslim yang sebenarnya. Saya yakin kok Muslim juga mengajarkan untuk berbuat baik.

Untuk teman-temanku sesama non-Muslim, percayalah, bukanlah agama Islam yang melakukan teror dan menyatakan perang terhadap kita, melainkan sekelompok orang yang menginginkan perpecahan dan benci perbedaan. Percayalah bahwa mereka pun aslinya gak gitu, cuma mungkin ada yang pengaruhin pikirannya.

Intinya, please, do tolerate. Kita Pancasila kan? Jangan sia-siain perjuangan pahlawan-pahlawan kita yang mati-matian bebasin kita dari penjajah, merdekain negara ini, terus sekarang kita malah ngancurin negara kita sendiri cuma gara-gara masalah perbedaan yang sebenernya kita tau kita emang udah beda dari awal. Negara ini punya kita sama-sama, apapun agamanya. Bukan punya sekelompok orang. Jadi pleaseeee banget temen-temenku, jangan saling benci, jangan musuhan, karena itu yang diinginkan “dalang-dalang” buat dapetin kepentingannya. Percaya, semua agama itu baik. Cuma persoalan “cara” mana yang kita masing-masing pilih.

Salam Bhinneka Tunggal Ika :)



-RAL-

Monday, April 17, 2017

Pelangi?

Perbedaan.

Satu kata, seribu makna, berjuta cerita.

Sebuah kata ini seharusnya bisa menjadi rangkaian yang indah seperti pelangi. Ya, kamu tau kan pelangi itu terdiri dari warna-warna yang berbeda? Indah kan?

Tapi pada kenyataannya, perbedaan justru dijadikan orang sebagai alasan untuk menyakiti orang lain. Bahkan satu perbedaan sederhana saja, bisa membuat sebuah perdamaian hancur.

Bicara soal perbedaan pada manusia di zaman ini, pastinya sudah muncul beberapa kata di pikiran kalian. Perbedaan kaya-miskin, tingkat pendidikan, kelas sosial, cara bergaul, warna kulit, logat bicara, bentuk mata, bahasa, cara menyembah Tuhan, juga cara memperlakukan sesama.
Tunggu dulu, yang terakhir, apakah benar seharusnya berbeda?

Saya orang Indonesia, negara dimana lambang negara nya menyerukan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Negara, di mana kata “adil” disebutkan dua kali dalam lima sila nya.

Indonesia mengakui segala suku di negerinya, yah, walaupun anak kesayangannya duduk di pulau Jawa, sedangkan anak lainnya mungkin sesekali ditengok, eh, atau mungkin akan diakui ketika akan “diculik” tetangga. Hmm, yang penting diakui dan terdata lah.
Indonesia juga mengakui 6 agama di negaranya; Kong Hu Chu, Katolik, Hindu, Kristen, Buddha, dan Islam. Eh, urutannya betul atau salah ya? Tapi semuanya punya hak yang sama kan? Jadi urutan yah tidak terlalu penting lah.

Saya yakin, semua suku dan agama pasti mengajarkan umatnya untuk melakukan hal baik, saling mengasihi dan mencintai, saling menghormati dan tolong-menolong, bla-bla-bla.......
Kenapa bla bla bla? Karena biasanya orang-orang tidak suka membaca teori terlalu panjang.
Ya, pada kenyataannya, ketika situasi berkaitan dengan kekuasaan, berkaitan dengan politik, kepentingan pribadi, dan A dan B dan C, situasi ini berbalik. Ajaran-ajaran baik seakan dilupakan dan kepercayaan seakan dijadikan nama “gank” yang siap bertarung di jalan. Kutipan-kutipan untuk patuh pada Tuhan disalahgunakan untuk menjadi senjata yang menghakimi benar dan salah.

Lalu, ketika bicara soal hak, pasti dikatakan bahwa setiap manusia memiliki Hak Asasi Manusia, bahwa semua manusia itu sama. Kita harus berteman dengan siapa saja, jangan memandang ia berasal dari kelompok mana. Namun, ketika bicara soal percintaan, mengapa perbedaan menjadi suatu hal yang begitu krusial? Bukankah semua agama mengajarkan cinta? Saya tahu benar bahwa pendapat saya akan ditentang banyak orang, bahkan mungkin agama dan suku saya sendiri. Namun apalah arti suku apabila semua mempunyai hak yang sama? Dan apalah arti agama apabila semuanya mengajarkan hal baik? Saya mengerti bahwa setiap agama mengharapkan umatnya untuk berpasangan dengan seseorang dari agama yang sama. Tetapi, apa cinta memilih dan dipilih? Apakah ketika saya mengetahui sebuah perbedaan, perasaan itu akan hilang? Dan apakah ketika saya menemukan kesamaan, perasaan itu harus muncul? Atau mungkin perjodohan harus tetap dilestarikan dan perasaan dikesampingkan?
Mengapa harus sama? Mengapa tiba-tiba perbedaan itu menjadi sangat jelek dan menyakiti?

Saya mengalami dan mendengar banyak cerita tentang perbedaan itu. Perbedaan suku dan agama yang akhirnya memisahkan dua orang. Dua orang yang telah saling menerima kekurangan-kekurangan pasangannya hingga yang paling buruk – namun tak bisa menerima perbedaan pasangannya. Jadi, perbedaan itu lebih buruk daripada segala kekurangan lainnya?

Faktanya, banyak perubahan positif yang dilakukan di negeri barat untuk menghilangkan batas-batas perbedaan antar manusia, dan berefek pada negara ini. Semoga saja, cepat atau lambat perbedaan ini juga akan diterima di Indonesia.

Sadarkah bahwa negara-negara lain bahkan mengagumi banyaknya budaya dan keragaman di Indonesia? Mereka menyebut semua itu indah. Kita, yang di dalam negara ini, kenapa justru seperti membenci keragaman ini? Apa yang kita lakukan?

Akhir-akhir ini, saya lebih sering mengekspos kegiatan agamais dan kutipan rohani menurut agama saya. Beberapa orang mungkin kesal. Mungkin ada yang berpikir saya ingin mengganggu agama lainnya? Mungkin ada yang berpikir saya sok beriman atau fanatik? Terserah, karena setiap manusia punya hak untuk berpikir.
Nyatanya, saya melakukan itu semua untuk mengatakan pada dunia bahwa saya, kaum minoritas di negara ini eksis, dan saya berani menjadi saya. Saya ingin memberitahu dunia bahwa Indonesia kaya. Kaya, karena perbedaan kita yang begitu banyak, membuat Indonesia berwarna, seperti pelangi. Saya juga ingin memberi semangat bagi orang lain yang merasa dirinya berada di kelompok minoritas, agar mereka tidak malu dan meninggalkan kelompoknya, agar mereka tetap percaya diri untuk menjadi mereka sendiri. Karena kita dan mereka punya hak yang sama untuk mengajak teman-temannya beribadah, melalui media sosial.

Walaupun warna “nila” dalam pelangi tidak sejelas merah, kuning, dan hijau, tetapi “nila” adalah bagian dari pelangi.
Pelangi tidak akan menjadi pelangi, apabila warnanya hanya merah.
Pelangi tidak akan indah dan dikagumi, apabila warnanya hanya kuning.
Pelangi, ya warna-warni.



-RAL-

17/04/2017 – 2:32 AM