Wednesday, April 9, 2014

Sebuah Pelindung

Udah lama ga muncul di dunia per-blog-an.
Well, ini mau ngepost satu cerita yang idenya sih dari true story, tapi ceritanya sama sekali enggak, apalagi endingnya, makin ngelantur hehe.
Gue bikin 3 sudut pandang, masing-masing dengan ending yang beda.
Well, this is the first version, the other two will be posted separately.
Enjoy!

***




Siang itu, sepulang kuliah, aku pergi ke sebuah mall dengan kekasihku. Ia memarkir vespa kesayangannya di tempat parkir. Kedua helm yang adalah miliknya kami letakkan di atas jok. Aku tak ingin membawa map kuliahku ke dalam mall, maka aku meletakkannya di sela jok.

“Ilang gak ya aku taro di sini?” tanyaku padanya.
“Gak tau, tapi bawa aja sih,” jawabnya.
“Tinggal aja deh hehe, semoga aja gak ilang,” kataku akhirnya sembari meletakkan mapku.

Kami pun meninggalkan vespa beserta kedua helm dan map ku di tempat parker. Lalu kami masuk ke dalam mall dan menikmati bahagianya waktu luang.
Sampai hari mulai malam, kami memutuskan untuk makan di luar mall. Kami berjalan beriringan menuju tempat vespanya diparkir. Dari jauh terlihat kilau vespa dengan bentuknya yang seksi.

“Map ku gak ilang! Hahaha,” kataku padanya dengan ceria, sambil melompat-lompat sedikit.
“Eh, helm aku mana?” tanpa menjawab pernyataanku, ia terlihat panic melihat helm yang dia pakai kini hilang.
“Loh? Tadi kamu taro di atas jok kan? Ini helm kamu yang aku pake ada kok. Mana ya?” jawabku sambil mencari-cari helm itu ke segala arah.
“Masa diambil orang sih? Aduh, itu helm mahal banget lagi!” Katanya kesal, 
“Eh masa sih? Baru kali ini deh aku tau helm ilang, biasanya aman-aman aja,” jawabku.
“Ya sama, aku juga baru pertama kali,” katanya sambil menenangkan diri sendiri.

Di tengah percakapan kami, aku melihat dari ekor mataku, sebuah motor merah tua melintas dengan helm yang tak asing. Ia sudah di jalur keluar, menuju loket pembayaran parkir.

“Eh itu bukan helm kamu???” tanyaku padanya sambil menunjuk ke arah motor tua itu.
“Iya! Aku yakin banget, helm itu jarang banget,” jawabnya.

Aku segera lari melintasi jalur parkiran yang sempit itu, melompati beberapa motor jika terlalu menyita waktu untuk menghindarinya. Sampailah aku di sebelah motor tua dan pengendaranya yang kini terlihat panik. Ia mencoba menarik gas penuh, tetapi terlambat, aku lebih cepat. Ku tarik bajunya kuat-kuat sampai ia dan motornya berbelok ke tempat yang lebih luas.

“Heh maling, jangan lari! Sini lu!” bentakku pada pengendara itu sambil menariknya.
Ia oleng dan turun dari motornya.
“Buka helm pacar gue!” bentakku padanya.
“Nggak! Ini, ini helm gue!” katanya berbalik marah.
Perempuan, ternyata. Terdengar kebohongan dari kata-katanya.
“Balikin, atau…”
“Atau apa?” katanya memotong ucapanku.

Tanpa bisa menahan diri, aku membuka paksa helm itu lalu menghajar pipi kirinya. Ku kira pertengkaran ini hanya berhenti sampai di situ. Aku salah. Ia bukan perempuan lemah, sama kuat denganku. Ia balas pukulanku. Kami pun bertengkar ala dua pendekar— atau dua agen FBI. Beberapa pukulan dan tendangan juga tangkisan yang kami keluarkan mengundang perhatian orang-orang di sekitar kami. Aku mulai menyadarinya dan memutuskan untuk menghentikan perkelahian ini. Aku memutar badan dan menendang kepalanya dengan keras. Ia terjatuh telentang di lantai. Aku segera mengambil helm pacarku, menarik tangannya dan segera menaiki vespa. Kami pun pergi dari tempat itu.

“A..aku…Aku gak tau kamu bisa bela diri kaya gitu,” katanya yang masih sangat shock menyaksikan kejadian tadi.
“Itu reflek doang, yah maklum, aku diajarin papa beberapa jurus. Aku udah bilang kan dia ban hitam?” jawabku sambil bercanda.
“Oh gitu… Tapi kamu keren banget tadi. Aku bener-bener kaget,” katanya lagi.
“Hahaha, biasa aja ah. Mungkin karna kamu kira aku manja aja kalii, hehehe,” kataku mengakhiri percakapan tersebut.

Yah, mungkin ini hanya kejutan yang pertama. BIar saja ia tak tau betapa besar ancaman yang datang padanya tadi. Biar saja ia tak tau bahwa ayahnya adalah orang penting yang dibenci banyak orang. Biar saja ia tak tau bahwa map yang aku tinggalkan di atas vespanya adalah alat pelacak dan perekam. Dan biar saja ia tak tau, bahwa aku adalah agen rahasia yang dibayar ayahnya untuk melindunginya.


(ral)

No comments:

Post a Comment