Thursday, April 10, 2014

Sebuah Pelindung (3rd Version)

Saat itu, matahari mulai menuju pinggiran bumi. Dengan lelah aku menaiki motor tuaku, meninggalkan kampus dan berkeliling sebentar tanpa arah. Aku hanya sedih, karena kekasihku memutuskan untuk meninggalkanku dan memilih laki-laki lain. Aku berjalan terus, mengikuti arah angin yang meniupku. Mungkin aku bisa mendapat sedikit hiburan?

Tanpa terasa aku melewati sebuah mall. Aku menoleh, lalu memutar balik motorku dan masuk ke dalamnya. Sesampainya aku di dalam area parkir, aku melihat pemandangan deretan motor yang memenuhi area tersebut, juga beberapa motor lain yang berputar mencari tempat untuk mendudukkan kuda mesinnya. Panas mesin kendaraan menusuk kulitku. Bulir-bulir keringat berjatuhan dan membasahi helmku. Aku membuka helm, memperhatikan area tersebut, berharap ada tempat untuk motor tuaku ini.Pelan, aku berputar mencari tempat. Panas semakin mengusir kehadiranku. Aku pun memutuskan untuk meninggalkan tempat ini, walaupun belum ada tiga ku langkahi. 

Menuju ke pintu keluar, aku melihat sebuah vespa berkilau terparkir di ujung barisan. Vespa lama, namun sangat terurus. Di atasnya ada dua helm dan satu map. Map perempuan. Aku tidak begitu tertarik dengan map itu. Tetapi helmnya… Yang satu helm vespa biasa. Dan yang satu, helm mahal! Helm yang selama ini aku inginkan. Tanpa pikir panjang, aku berhenti di samping vespa tersebut. Sambil berpura-pura membetulkan sesuatu, aku menggantung helmku di motor dan memperhatikan sekitar. Setelah merasa aman, aku mengambil helm idamanku itu, memakainya dan segera meninggalkan tempat itu.

Kringggggggg

Handphoneku berbunyi. Dari teman kampus.

      "Halo?” kataku menjawab telepon sambil membawa motorku ke pinggir.
      "Dimana?” tanyanya.
      “Jalan pulang nih. Kenapa?” tanyaku lagi.
      “Ke cafĂ© biasa ya, lagi pada ngumpul nih, kurang lo doang. Gue tunggu,” katanya lalu menutup telepon.

Aku mengantongi lagi handphoneku dan segera menyusul teman-temanku. Tentunya dengan helm baruku.

      “Woy, dari mana aja lu? Sini gabung,” sambut seorang teman saat aku sampai.
      “Hehe, muter-muter iseng aja tadi. Makan deh yuk, laper,” kataku lalu bergabung dengan yang lain.

Setelah perut terasa kenyang, kami mengobrol dan bercanda seru, sampai tak terasa, malam datang. Entah gelas kopi keberapa yang ku seruput, nikmatnya malam dan pembicaraan melarutkan jalannya waktu. Sampai…

      “Misi, itu motor tua yang plat nomornya B 3859 AX punya siapa ya? Kata mas nya dari meja ini,” tanya seorang perempuan. Galak. Ia ditemani kekasihnya yang hanya diam dengan wajah yang dingin.
      “Saya. Kenapa?” tanyaku dengan kesal, melihat ekspresi mereka berdua.
      “Jadi gini, gue sama pacar gue ke sini mau nyari makan. Tapi perjalanan ke sini nya, gue gak pake helm. Tau kenapa? Soalnya helm yang satu dicolong orang tadi waktu parkir di mall. Beruntungnya, secara kebetulan gue ngeliat helm itu tadi pas markir di sini. Dan pacar gue udah ngecek, itu emang punya dia, ada tandanya. Jadi sekarang buka kunci jok motor lo, dan balikin helm nya,” kata perempuan itu dengan cepat dan jelas. 

Aku ingin melawan. Tetapi dengan apa aku bisa? Memang aku yang salah, aku tak punya alasan. Malu mulai melukiskan warnanya di pipiku. Aku melihat teman-temanku. Mereka ternganga diam. Segera aku berdiri dan mengarah ke motorku. Aku membuka kuncinya dan memberikan helm tersebut ke pasangan itu.

      “Untung gak gue laporin polisi lo!” kata perempuan itu, masih galak. Aku tertunduk bisu karena malu. Perempuan itu segera meninggalkan aku, diikuti pacarnya.
      “Sayang ya, banyak gaya tapi maling. Lu tuh udah hampir diabisin,” laki-laki itu akhirnya angkat bicara. Dingin, tenang, tapi menusuk.
      “Untung lo cewe!” katanya lalu pergi, meninggalkan aku yang berdiri terpaku dan dipenuhi rasa malu.


(ral)

No comments:

Post a Comment