Wednesday, April 9, 2014

Sebuah Pelindung (2nd Version)

Siang itu, sepulang kuliah, aku pergi ke sebuah mall dengan kekasihku. Aku memarkir vespa kesayanganku di tempat parkir. Kedua helm yang adalah milikku kami letakkan di atas jok. 

“Aku males bawa map deh. Ilang gak ya aku taro di sini?” tanya pacarku sambil meletakkan map kuliahnya di sela jok.
“Gak tau, tapi bawa aja sih,” jawabku sambil merapikan posisi kedua helm di atas jok.
“Ke penitipan barang aja yuk, nitip map aku, helm, sama ransel kamu,” ajaknya.
“Bayar tau, buang-buang duit ah. Katanya mau movie marathon?” tolakku.
“Hmm, yaudah deh,” katanya sambil meletakkan mapnya di sela jok motor.

Kami pun meninggalkan vespa beserta kedua helm dan map nya di tempat parkir. Lalu kami masuk ke dalam mall dan menikmati bahagianya waktu luang.
Sampai hari mulai malam, kami memutuskan untuk makan di luar mall. Kami berjalan beriringan menuju tempat vespanya diparkir. Dari jauh terlihat kilau vespaku dengan bentuknya yang seksi.

“Map ku gak ilang! Hahaha,” katanya padaku dengan ceria, sambil melompat-lompat sedikit.
“Eh, helm aku mana?” belum sempat ku menjawabnya, aku langsung panic melihat helmku yang kini hilang.
“Loh? Tadi kamu taro di atas jok kan? Ini helm kamu yang aku pake ada kok. Mana ya?” jawabnya sambil mencari-cari helm itu ke segala arah.
“Masa diambil orang sih? Aduh, itu helm mahal banget lagi!” Kataku kesal. Terang saja, itu helm kesayanganku!
“Eh masa sih? Baru kali ini deh aku tau helm ilang, biasanya aman-aman aja,” jawabnya polos.
“Ya sama, aku juga baru pertama kali,” kataku sambil mencoba menurunkan emosiku.
“Hmmm, lapor aja ya ke petugas?” ia mencoba memberi solusi.
“Ah, percuma. Gak ada CCTV. Gak bakal ketemu, lama-lamain doang. Yaudah lah,” katanya pasrah, namun kesal.
“Kamu sih, udah aku bilang tadi ke penitipan. Bener kan ilang?” katanya yang tiba-tiba menambah tekanan darahku.
“Penitipan itu bayar. Dan kita mau movie marathon. Kamu kira aku punya banyak duit buat bayar semua? Udah deh ah. Mana helmku yang kamu pake tadi?” emosiku separuh meledak.
“Nih,” katanya singkat dengan nada yang kesal, sambil menyodorkan helmku yang tadi ia pakai.

Mendengarnya, aku sedikit menyesal telah mengatakan ucapan yang tajam tadi. Tetapi aku diam saja, memakai helm tersebut dan menjalakan vespaku. 

Perjalanan kami tempuh dalam diam. Sambil mengendarai vespa, aku memikirkan helmku, perkataanku tadi, dan pacarku yang begitu diam dibalik punggungku.

“Yang, awas!!!!” teriaknya tiba-tiba.

Kami terpental dari vespa. Aku terlempar ke sebuah mobil lalu jatuh ke jalan. Aku menoleh ke arah kekasihku. Ia tergeletak berlumuran darah di atas trotoar. Aku menoleh lagi ke arah vespaku. Kami tertabrak sebuah truk. Itu hal terakhir yang aku ingat.

“Ayo bangun dong, Sayang…” samar-samar terdengar suara perempuan di hadapanku. Aku membuka mata perlahan. Silau. Ku coba lagi dan akhirnya mataku terbuka.
“Mama??” kataku terkejut. Aku melihat sekeliling. Rumah sakit. Oh iya, terakhir kali aku sadar, aku dan pacarku jatuh dari vespa. Eh…
“Mam, pacar aku mana???” tanyaku panic, begitu sadar akan kejadian terakhir yang menimpa kami.
“Hmmm, dia… Dia…” jawab mamaku yang lalu terdiam tanpa menyelesaikan kalimatnya. Aku terdiam lalu mengingat kembali apa yang terjadi. Ia tergeletak dengan darah, dan… Ya Tuhan, dia kan tidak memakai helm!
“Mam, dia dimana?” Tanyaku semakin panic. Sebelum mamaku membuka bibirnya, dokter masuk ke kamar itu.
“Eh, udah sadar? Gimana perasaan kamu?” tanya dokter dengan tenang dan ramah.
“Dok, pacar saya mana?” tanyaku tanpa peduli akan pertanyaannya.
“Hm… Maaf, tapi nyawanya tidak bisa tertolong. Ia mengalami benturan yang sangat keras di bagian kepala. Pendarahannya parah. Ia bahkan sudah kehilangan nyawanya sebelum kami melakukan tindakan apapun,” jawab dokter dengan prihatin.

Aku tidak dapat berkata-kata. Air mata seketika menyerbu kelopak mataku, memenuhinya lalu bertumpahan jatuh dipipiku. Rasa sesal menyesakkan seluruh dadaku. Terakhir bertemu dengannya, aku melontarkan kalimat yang pedas. Dan, aku yang meminta helm itu… Aku yang mengendarai vespa sambil melamun. Aku yang membiarkannya duduk di atas vespaku, dengan resiko tinggi dan tanpa pelindung. Aku… 

Aku yang menyebabkan orang yang paling aku cintai, meninggalkan aku dan juga dunia ini…


(ral)

No comments:

Post a Comment