Saturday, April 27, 2013

Dia

Dia, orang yang tak asing.
Dia, entah teman entah musuh.
Dia, aku tak tau pasti.
Dia, mana yang kau maksud?

Dia, orang yang tak jauh.
Dia, entah kau hormati atau kau hina.
Dia, kau tak tau pasti.
Dia, mana yang ku maksud?

Dia, yang dibenci diam-diam?
Atau dia, yang dicinta diam-diam?

Dia...
Siapa dia?

-ral-

Wednesday, April 10, 2013

Perlahan

Mengapa kau pinta lebih
Saat kau dapat yang kau cari
Mengapa kau beri kurang
Saat kau jadi yang dicari

Semua telah terasa indah
Telah sempurna bagiku
Jangan kau mengubah atau berubah
Ingatlah yang dulu menarik hatiku

Tak usah kau buru waktu
Lebih indah bila perlahan
Satukan mauku dan maumu
Biar tak hilang, tak apa pelan


- ral 9/4/13 -

Wednesday, April 3, 2013

Jejak

Apa kabar di sana
Hai kamu yang telah hilang
Adakah kamu rasa
Rindu yang kini ku erang

Sesalku tiada berarti
Telah sia-siakanmu
Dua hati yang mencinta
Satu sosok yang mengalah

Tak pantaslah aku
Memanggil-manggil namamu
Saat kamu telah pergi
Tinggalkan rasa yang takkan terjadi

Tapi mengapa tak kau bawa juga
Rasa dan angan yang terkubur
Menorehkan luka rindu yang tak sampai
Membangunkan jiwa dari mimpi indah

Pantaskah ku merasa kehilanganmu
Menangisi rencana yang hanya rencana
Menghapus tawa dan canda
Mungkinkah masih kamu ingat semua?

- ral / 03 04 13 -

Tuesday, April 2, 2013

Legenda Sungai Perbedaan

(2025)

Vanny sedang berjalan-jalan di sekitar rumah barunya.
Ia mencapai sungai di halaman belakang rumahnya dan menemukan dua buah batu yang berseberangan.
Batu-batu tersebut dipenuhi tulisan-tulisan jaman kuno yang tidak ia mengerti.
"Selamat siang, nona cantik. Penduduk baru, ya?" sapa seorang nenek tukang sapu dengan ramah.
"Siang, Nek. Iya... Nek, ini batu apa ya?" tanya Vanny yang begitu penasaran.
"Oh, itu legenda di daerah sini. Nenek sudah mengumpulkan surat-surat asli dan merangkainya dalam tulisan, takut tak ada yang mewarisi kisahnya kalau Nenek meninggal. Tunggu ya, Nenek ambilkan untuk kamu," jelas nenek tersebut panjang.
Aku hanya bisa termangu, dan menunggunya kembali sambil kembali melihat-lihat keadaan sekitar.
"Ini dia, kamu bawa pulang saja dulu. Nenek selalu ke sini setiap hari, kalau kamu sudah selesai membacanya," kata nenek tersebut dengan tersenyum sambil memberikan sebuah buku tulis yang kumuh.
Aku berterima kasih dan segera pulang. Aku ingin segera membacanya.

***

(1299)

Jona tersayang, 
Kini aku mengerti kenapa kamu benci perbedaan.
Selama ini aku masa bodoh.
Aku kira perbedaan itu tak masalah.
Aku berteman dengan siapa saja, dan berbeda justru terasa menyenangkan.
Aku pikir kita bisa saling melengkapi.
Yang selama ini ku tau, toleransi adalah obat segala perbedaan.
Dan kita semua setara di mata Tuhan.
Lalu ku ingat cara kita berbeda.
Kita bisa bersatu, tapi bukan menjadi satu.
Mungkin persahabatan tidak mengenal beda.
Tapi cinta mengenalnya.
Tiap agama butuh seorang imam dalam keluarga.
Aku cinta keluargaku.
Dan mereka hanya mau imam seiman.
Kita, tak mungkin terjadi.

Untuk dosa yang paling ku suka.

Hapus segala angan kita,
Maura.

***

Untuk Maura tercinta, 
Aku harap kini kau mengerti kenapa aku benci perbedaan.
Selama ini aku selalu berhati-hati.
Aku tau perbedaan bisa menjadi masalah.
Aku ingin berteman dengan siapa saja, namun berbeda sering membuatku takut.
Lalu kau menghapusnya dengan mengajariku saling melengkapi.
Dan ku kira toleransi bisa membantu kita hidup dalam perbedaan.
Aku juga berpikir, kita setara di mata Tuhan.
Tapi aku selalu diingatkan, cara kita berbeda.
Kita tak bisa menyatu, walau hidup bisa satu.
Untuk bersahabat dengan siapapun sekarang aku bisa.
Tapi cinta, takkan bisa beda.
Agama butuh aku sebagai imam di keluarga.
Aku mencintai keluargaku.
Dan mereka takkan pernah setuju.
Kita, tak mungkin terjadi.

Untuk derita yang takkan terlupa.

Hentikan mimpi kita,
Jona.

***

Pada suatu masa, ada sebuah desa bernama Unifalsa. Desa tersebut dihuni oleh dua kelompok masyarakat yang berbeda kepercayaan. Meskipun begitu, mereka hidup dengan selaras dan damai, serta rukun dan saling membantu. Tidak terjadi diskriminasi atas perbedaan. Mereka bergaul dengan sangat bahagia dan bebas. Tetapi, ada satu peraturan pokok yang tak boleh dilanggar; Tidak boleh ada percintaan dari golongan berbeda.

Beratus-ratus tahun lamanya sudah peraturan tersebut terbentuk, sejak pertempuran antara Dewa Isman dan Dewi Kritan. Mereka adalah sepasang kesatuan dewa-dewi yang tadinya dipuja seluruh penduduk Unifalsa. Secara tak disangka terjadi pertengkaran hebat di antara mereka yang menyebabkan lahirnya 2 kepercayaan berbeda, yaitu  Ismania dan Kritania. Untungnya, malaikat-malaikat Unifalsa berhasil memadamkan pertempuran tersebut, sehingga semua dapat hidup dalam damai lagi, walaupun dengan alirannya masing-masing. Tak pernah ada yang berani melanggar peraturan tersebut. Semua generasi mensakralkan peraturan ini karena mereka takut membuat Dewa Isman dan Dewi Kritan murka.

Alkisah hiduplah seorang gadis yang baru beranjak dewasa, dari golongan Kritania. Namanya Maura. Ia adalah seorang yang menyenangkan, punya banyak teman, dan ramah pada siapa saja. Bersama teman-temannya yang sesama pecinta seni, ia belajar di Sekolah Seni Unifalsa. Maura mempelajari berbagai jenis seni dan piawai dalam berbagai bidang. Namun ada satu yang paling membuatnya jatuh cinta, yaitu seni tari.

Alkisah hidup pula seorang dewasa muda dari golongan Ismania, bernama Jona. Tak pernah ada yang tau masa lalunya, bahwa ia pernah jatuh cinta pada seorang gadis dari golongan Kritania. Dengan susah payah ia dapat melupakannya, dan sejak itu ia benci perbedaan. Ia dikenal sebagai sosok yang dingin, namun pandai membuat orang tertawa. Jona bekerja di Sekolah Seni Unifalsa, sebagai guru tari.

Maura adalah salah satu pentolan pada seni tari. Karena kecintaannya pada tarian, ia sering berlatih sendiri sepulang sekolah. Jona, yang melihat potensi muridnya itu, tidak segan-segan mengawasi Maura latihan sepulang sekolah dan membinanya untuk menjadi lebih baik lagi. Dan karena ternyata rumah mereka berada pada satu kawasan, maka Jona sering mengantar Maura pulang. Kedekatan mereka tak menimbulkan suatu keanehan apapun, karena pergaulan seperti ini memang lazim di Unifalsa. Kedekatan antar guru dan siswa, antar generasi dan golongan yang berbeda, sudah menjadi hal yang biasa di sini. Tak ada yang berbeda, kecuali hati mereka.

Tanpa disadari, seiring berjalannya waktu, Jona dan Maura semakin dekat saja. Maura tau bahwa Jona benci perbedaan. Tetapi Maura justru mengajarinya suatu nilai yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, yaitu saling berbagi dan melengkapi. Dari saling mengajari, di antara keduanya, tumbuh rasa rindu dan cemburu. Dan pula, tumbuhlah sebuah rasa yang terlarang; cinta.

Mereka menyadari betul bahwa perasaan mereka ini salah. Terlebih Jona, yang sudah pernah mengalaminya dan menguburnya dalam-dalam. Ia benci perbedaan, namun malah terjerumus di dalamnya. Jona berusaha menghapus rasanya pada Maura, namun sia-sia. Begitu pun Maura. Banyak lelaki Kritania yang mendekatinya. Namun tetap saja, hatinya tertuju pada Jona. Mereka tak bisa saling melepaskan, sehingga mereka menjalin cintanya diam-diam. Semakin banyak tawa bahagia dan kenangan indah yang mereka anyam berdua. Juga berbagai rencana gila yang menyenangkan.

Sayangnya, nampaknya rencana-rencana yang mereka bangun takkan terwujud. Kabar percintaan mereka tersebar di penduduk dan sampai ke telinga Dewa Isman dan Dewi Kritan. Para dewa-dewi murka dan membuat kekacauan di Desa Unifalsa. Usaha pemisahan Jona dan Maura melahirkan konflik besar yang menyebabkan adanya pertentangan antar golongan. Untuk menghindari tindak kekerasan, penduduk desa melakukan tata pendudukan ulang sehingga golongan Ismania bertempat tinggal di satu sisi, dan kelompok Kritania di sisi lainnya.

Tak terkira, kekuatan cinta Jona dan Maura tetap membangkang. Mereka masih sering mengendap-endap untuk bertemu melepas rindu. Sampai suatu ketika, Maura mengandung benih Jona. Semakin panaslah konflik antara kedua golongan. Dan penjagaan pun diperketat. Selama mengandung, Maura tak pernah bisa dijenguk ayah dari anaknya itu. 

Semakin hari, semakin lemah saja fisik Maura. Kandungannya membesar, sedang tubuhnya mengecil terus.
Tanpa saling mengetahui, ternyata Jona juga terserang sakit keras. Mereka berdua menyerah pada kematian, tepat di hari anak mereka lahir. Bayi tersebut dikutuk para dewa-dewi menjadi sungai yang membatasi daerah Ismania dan Kritania. Sungai tersebut diapit batu nisan kedua orangtuanya di masing-masing sisi. Penduduk setempat mengharamkan air sungai tersebut dan menamainya dengan "Sungai Perbedaan".

***

(2025)

"Ini, Nek. Terima kasih, ya. Ceritanya bagus banget! Aku jadi merinding sendiri, Nek kalau ke sini," kataku sambil mengembalikan buku tersebut di pinggir sungai.
"Bagus, ya? Itu versi ketiga karangan Nenek tentang batu dan sungai ini. Nanti kamu baca ya versi pertama dan keduanya, lalu beritahu Nenek yang mana yang paling bagus," kata nenek tersebut sambil tersenyum lebar.


-ral.