Friday, March 1, 2013

Pertemuanku Dengan Keledai


Waktu itu, aku sibuk mengejar kudaku yang hilang.
Belum sampai ku ikat lagi, ketika aku harus pergi sebentar.
Ketika aku pergi, ada sesosok keledai muncul.
Tak terlihat, menjadi badut di segala situasi.
Dianggap remeh orang-orang, hanya jadi bahan tertawa.
Siapa yang mengira, seekor keledai yang dianggap bodoh, 
lebih pintar daripada kita yang jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Seperti aku, yang dulu telah berjanji akan mengejar kuda yang hilang 
dan tak akan menaiki kuda lain sehingga ia pergi.
Malah kini aku jatuh lagi.
Keledai yang kata orang hanya lelucon, 
Justru memapahku dari kesedihan, membuatku tersenyum dan merasa terlindungi.
Membawaku, mengangkatku dari kelelahan
ketika kuda yang katanya gagah itu tak ada di waktu yang paling ku butuhkan.
Aku merasa nyaman duduk di atas punggungnya, walau tanpa pelana.
Aku haus akan perlindungan dan perhatian.
Dan keledai itu memberikan minuman pelepas dahaga.
Mungkin karena kuda merasa gagah dan elok, tinggi gengsinya.
Tapi keledai itu, penuh kejujuran dan ketulusan.
Rendah hati dan tanpa keluh dapat ia laksanakan semua.
Gengsi, persetan dengan gengsi.
Ia punya caranya sendiri untuk dihormati.
Keledai itu mengantarku pulang, mengembalikanku ke atas pelana kuda.
Demi perasaannya, ia tak rela.
Tapi demi aku, diletakkannya perasaan itu di bawah kebahagiaanku,
sehingga rela lah ia.
Aku kembali duduk di pelana kuda, 
sambil melihat keledai yang tetap berjalan di belakangku,
Berharap seseorang yang pantas akan menungganginya kelak.
Harapan yang sulit diharapkan, tapi aku harus mengharapkannya.
Agar dia bahagia, tak seperti denganku.
Harapan, akan seseorang yang takkan menjadikannya “kuda cadangan”,
Merpati yang lebih putih bersinar,
Yang akan merubahnya menjadi kuda putih tergagah,
Dan mengakhiri pertemuanku dengan keledai. 



- ral. 1-3-13 -
dari kisah nyata 2 'sahabat'

2 comments: