Monday, October 15, 2012

Lilin di Mati Lampu

"Mungkin dia jadi lilin di saat lampu lo mati."

Itulah kalimat temen gue, Clarissa Gracia atau akrab dipanggil Ichol/Chole.
Satu kalimat, yang bikin gue sadar.
Satu kalimat, yang nancep, tapi bikin gue berpikir lebih dewasa.
Membuat gue berpikir, dari sudut pandang yang lain.

Sudut pandang kamu, yang mungkin udah lelah buat diterangin lampu yang sama.

Logis.

Ketika mati lampu, apa yang kamu cari? Cahaya yang dapat menerangi, bukan?
Ketika terang meninggalkan, bukankah menyenangkan jika ada lilin yang memberi rasa nyaman?
Ya, lilin bisa menemani di saat kamu takut akan gelap.
Di saat kamu kesepian ditengah gelapnya mata memandang.

Lampu ini salah, karna telah meninggalkan kamu di dalam gelap.
Membiarkan kamu kesepian, ketakutan, bimbang.
Lampu ini salah, terlalu lama meninggalkan.
Lampu ini salah, membiarkan lilin-lilin itu menyatu, menjadi lampu yang baru buat kamu.

Disaat kamu punya lampu yang baru, kamu pun berada dalam terang lagi.
Dan disaat lampu ini kembali, mungkin kamu sudah terlalu terang untuk diterangi lagi.
Tapi tak apa, tetap kuterangi.
Mungkin kamu melihat lampu lamamu kembali.
Dan aku mengerti, kamu tidak bisa meninggalkan lampu barumu,
yang dulu menerangi disaat kamu hilang dalam gelap.

Aku mengerti, lampu ini harus cukup terang, untuk menerangi yang sudah terang.
Aku pun mengerti, bahwa kamu tidak bisa memilih, lampu mana yang lebih bagus?
lampu mana yang lebih awet? lampu mana yang dapat menyorotmu fokus?

Aku mengerti.

Namun aku hanya ingin memberitau
Lampu ini, yang mungkin dulu membiarkanmu diterangi lilin,
kini sadar, bahwa kamu adalah satu-satunya objek yang patut diterangi.
Dan ingin menyadarkanmu, bahwa lampu ini sudah diperbaharui.
Lampu yang tadinya sangat terang, lalu meredup, kini menjadi paling terang.
Lampu ini lebih terang daripada lampu barumu.
Tak akan ada lampu yang bisa menerangi kamu, seterang lampu ini,
sefokus lampu ini, sebesar lampu ini.
Kamu hanya belum bisa menyadarinya.
Kamu hanya tidak tau, karena sekarang kamu berada di terang.
Terlalu terang untuk melihat.

Lampu ini akan selalu menerangi kamu.
Sampai kapanpun lampu ini sanggup.
Sampai lampu ini benar-benar tidak dapat berfungsi lagi.


Lampu ini, akan berhenti menerangi kamu,
Jika dan hanya jika kamu ingin mematikannya. 
Jika dan hanya jika kamu memintanya untuk mati.

Kini, lampu ini hanya bisa terus menerangi, 
sembari berharap,
bahwa kamu akan sadar,
betapa tidak terbatasnya cahaya ini.


Cahaya ini, hanya untuk kamu.




-ral.

No comments:

Post a Comment