Tuesday, October 16, 2012

Kesempatan, bicaralah.

Ketika kamu merasa sesuatu yang aneh di dalam dirimu.
Dan kamu tidak ingin membuatnya sakit hati dengan rasa itu.
Maka kamu mengakhirinya.

Haus akan kebebasan?
Ingin merasa diperjuangkan?
Rasa yang hilang?

Hati-hati.

Saat kamu mengakhirinya, kamu mengambil langkah besar.
Suatu langkah menuju lebih baik, atau justru lebih buruk.
Saat itu, kamu masih mempunyai kesempatan kedua,
untuk memulainya kembali.

Lalu itu semua terserah kamu,
mau mengambil kesempatan itu,
atau membiarkan kesempatan itu lewat?

Mungkin kamu berpikir akan mengambil kesempatan itu di lain waktu.
Tidak sekarang.
Tapi pikirkan, apa kesempatan itu akan menunggu?
Belum tentu.

Lalu, apa yang kamu lakukan saat kamu ingin mengambil kesempatan itu,
namun kesempatan itu sudah terlanjur pergi?
Mengejar kesempatan itu?
Atau membiarkannya lewat untuk kedua kali?

Mungkin kamu berpikir untuk mengejarnya.
Namun, apabila kamu melihat kesempatan itu sudah diambil orang,
apa yang harus kamu lakukan?

Apakah salah untuk mengambilnya kembali?
Apakah itu berarti menyakitinya,  yang mengambil kesempatanku yang hilang?
Atau mengambil sesuatu yang telah aku buang itu salah?
Atau justru salah untuk membiarkannya pergi lagi?
Apakah itu berarti aku tidak menghargai kesempatan?
Apa itu berarti aku tidak mau memperjuangkan kesempatan?

Seandainya kesempatan dapat berbicara padaku.
Apa yang ia mau?
Apakah mau kembali memberi padaku?
Atau mau pergi dariku dan memberi padanya?
Karena aku sadar, kesempatan ini tidak dapat dibagi dua.

Karena aku sadar, aku masih mengharapkan kesempatan itu kembali.
Kesempatan, yang mungkin telah diambil orang.

-ral.

No comments:

Post a Comment