Thursday, December 8, 2011

"Talk Less"

Hayley duduk di bangku taman pada suatu sore.
Murung, merenung, menerawang.
Kakak laki-lakinya melihat adiknya dari kejauhan.
Ia sangat menyayangi adiknya, dan ia tau ada sesuatu yang salah dengan adiknya tersayang.
"Hayley, sedang apa? Kenapa melamun sore-sore begini?" katanya ramah sembari menghampiri.
"Tidak apa, Kak. Hayley cuma bingung." jawabnya pelan, sambil tetap menerawang.
"Bingung kenapa? Mau cerita sama Kakak?"
"Hayley bingung, Kak. Kenapa Tuhan tidak adil?"
"Hey, tidak boleh begitu. Kenapa kamu bilang Tuhan tidak adil?"
"Soalnya, Hayley tidak sehebat teman-teman di sekolah. Hayley tidak punya apa-apa untuk dibanggakan, sementara temen-temen Hayley jago-jago semua."
"Hayley kan pintar, nilainya kan bagus? Teman-teman Hayley banyak yang nilainya jelek-jelek kan?"
"Iya Kak. Nilai Hayley memang bagus. Tapi tetap saja, nilai itu tidak berguna untuk hidup Hayley."
"Kok gak berguna? Hayley sayang..."
"Seperti Miranda, dia pinter banget gambar, pantes aja, papa mamanya arsitek. Terus Damian, suaranya bagus banget, ternyata dia anaknya penyanyi. Lindsay juga lentur banget, ternyata mamanya pelatih balet. Atau Lily, yang tinggi langsing kayak model. Jelas aja, mamanya emang model, papanya artis. Sedangkan Hayley... bahkan Hayley gak tau bakat apa yang bisa turun ke Hayley dari papa sama mama!" emosi Hayley seketika meledak, memotong pembicaraan kakaknya, menyemburkan lava kekecewaan yang panas meluap-luap dari gunung berapi di hatinya.
"Hayley sayaang, gini loh. Papa sama mama itu orang yang pinter. Berkat mereka pinter, bisa nyari uang yang banyaaaak sekali. Tujuannya, biar Kakak sama Hayley bisa sekolah dan jadi orang yang pinter juga. Nah, Hayley pinter itu, turunan dari mama papa."
"Kakak gak ngerti maksud Hayley. Hayley juga mau punya bakat keterampilan, sama kayak temen-temen Hayley yang lain. Bahkan kayak Fred, dia jago banget nari dan main musik, padahal gak ada turunan dari papa mamanya. Atau Alyssa yang ngomong Bahasa Inggrisnya udah persis orang luar sana, padahal papa mamanya gak lulus SMA. Hayley malu Kak."
"Dulu Kakak juga kayak kamu. Pas SMP, Kakak gak punya temen. Bukan karena Kakak nakal, tapi karena Kakak anak beasiswa. Waktu itu kita belum berkecukupan seperti sekarang, dan Kakak sekolah bermodalkan otak dan sarana beasiswa. Di SMA, Kakak ditolak di semua ekskul. Band gak mau nerima Kakak dengan alasan Kakak gak bisa bermain musik. Dance, Kakak juga ditolak karena dibilang kaku. Bahkan di teater pun kakak tidak diterima dengan berbagai alasan negatif lainnya. Kamu tau yang tersisa apa? Hanya ekskul catur yang mau menerima Kakak. Kakak memang sedih, tapi kakak tau, perjuangan kakak belum berakhir sampai disitu saja. Akhirnya kakak membulatkan tekad, kakak harus membuat sesuatu yang berbeda. Nah, kamu lihat kan hasilnya, bakery&cafe dan panti asuhan yang kita miliki itu hasil usaha kakak sendiri. Dan sekarang, semua teman-teman kakak tidak lagi meremehkan, dan sudah menghargai perjuangan kakak," cerita sang kakak sambil tersenyum ke arah adik kecilnya ini.
"Jadi, menurut kakak, Hayley juga bisa membanggakan seperti teman-teman Hayley?" tanya Hayley sembari menoleh ke arah kakaknya dan mengusap air mata di sudut matanya yang berbinar.
"Iya, sayang. Pasti. Kalau kamu mau menggali semua potensi yang ada di dalam diri kamu, dan rajin-rajin mengembangkannya, pasti kamu bisa jadi apa yang kamu mau. Percaya sama kakak, kamu akan menemukan titik tertinggi dari potensi kamu. Tuhan pasti sudah merencanakannya. Nanti, saat waktunya sudah tepat, kamu pasti akan tau kemana harus melangkahkan kaki-kaki prestasimu. Tapi kakak berpesan ya, bagaimanapun keadaan kamu, jangan sampai kamu menyerah. Menyerah itu hanya untuk yang kalah. Kakak mau kamu jadi pemenang. Oke?" 
"Hmm... Iya kak," sahut Hayley, sambil memeluk kakak tersayangnya.
"Oh ya, Kakak juga mau bilang. Kalau nanti Hayley sudah tau apa yang harus Hayley lakukan, atau nanti ketika Hayley sudah sukses, jangan sampai lupa daratan. Tidak boleh sombong. Apalagi sebelum ada hasilnya, tidak usah mengumbar segala sesuatu secara berlebihan. Kamu juga harus bisa berguna untuk orang lain, bukan hanya diri sendiri. Ingat pesan kakak ya. Talk less. Then you can dream, do, feel, and shine."

-ral.

No comments:

Post a Comment