Sunday, October 23, 2011

Cerpen 4

Justin menganggap peristiwa vas jatuh itu adalah sesuatu yang lucu.
Ia terus menertawakanku tentang kejadian itu.
Tak apalah, Lizzie tetap senang bisa melukiskan pelangi indah pada bibirnya,
dengan mata birunya yang berkilauan.
Lizzie jadi semangat ke sekolah.
Ia ingin selalu bersama Justin.
Kegilaan akan cinta barunya ini, bahkan membuat Lizzie lupa diri.


"Liz, udah dong, kamu ceritain tentang Justin di toko coklat udah lima kali!"
Diana, yang sudah lelah mendengar celotehan Lizzie, akhirnya angkat bicara.
"Dengar ya Liz. Aku gakmau membatasimu. Tapi, aku sarankan untuk hati-hati sama Justin.
Menurutku, kamu jangan sampai jatuh cinta sama dia," lanjut Diana.
Lizzie, dengan segala kekagumannya akan Justin, mengerutkan dahinya.
Ia melepaskan mulutnya dari sedotan jus jeruk yang ia beli dari kantin.
Ia heran, mengapa temannya ini selalu aneh tentang Justin.
"Kamu ini kenapa? Kamu suka sama Justin? Iri sama aku?" kata Lizzie tiba-tiba,
kesal akan perkataan Diana.
"Liz, aku ini sahabatmu. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu,"
jawab Diana, mencoba untuk tetap tenang.
"Di, bisa ngomong sebentar gak?" tiba-tiba seseorang datang menarik tangan Diana.
Gary. Seorang cowok kurus-tinggi berambut keriting.
Ia adalah teman baik Justin. Lizzie semakin heran, sebenarnya ada apa?
"Liz, pinjem Diana bentar ya. Tenang aja, bentar lagi Justin nyusul kok,"
kata Gary pada Lizzie sembari menarik Diana dan mengembangkan senyum termanisnya.


"Hey! Ngelamun lagi kaaan" Lizzie tersentak karena kaget akan kedatangan Justin.
"Eh? Hehe iya abis bingung mau ngapain" jawab Lizzie seadanya.
"Hmmm, yaudah, ikut yuk! Aku beliin es krim" kata Justin lagi.
Mereka berdua pun duduk bersama menikmati es krim favorit mereka.
Tidak lain dan tidak bukan adalah rasa coklat.
Angin sejuk menghembus di wajah kedua remaja bahagia ini.
Ditemani indahnya langit biru.
Biru, sebiru mata Justin.
Sejuk, sesejuk hati Lizzie, ketika ia bersandar di bahu pujaan hatinya ini.


_______________________________
"Lizzie benar-benar sudah dibutakan, dan aku gakmau tinggal diam!"
"Diana, dengar ya. Ini sama sekali bukan urusan kamu, jadi mending gausah urusin Justin lagi."
samar-samar terdengar pertengkaran kecil antara Diana dan Gary.
"Aku sahabat Lizzie, gak peduli sama Justin, yang aku urusin ya Lizzie.
Dia itu benar-benar sudah dibutakan. Dia bahkan gak tau asal-usul Justin,
masa lalu sama mantan-mantannya gimana, gak tau semua!
Yang dia tau, hanya sebatas Justin. Mata biru. Badan tegap-tinggi. Jago skate.
Kapten Basket. Suka coklat. Banyak uang. Sudah kan?"
Diana memperjuangkan pendapatnya yang ia yakini benar.
"Yaudah, terserah deh. Palingan juga kamu jadi kayak gini, karna kamu itu korban sakit hati Justin kan?" Gary, membalas dengan dingin. Singkat namun mengena. Diana hanya bisa terdiam, sambil memandangi sosok jangkung yang berjalan meninggalkannya.


(to be continued on Tessa's blog)

No comments:

Post a Comment