Thursday, July 21, 2011

Saya bangga akan negara Indonesia, tapi tidak bangsanya.

Jujur. Saya kecewa dengan keadaan Indonesia saat ini, terutama di sekitar ibu kota.

Hari ini, pacar saya dan temannya ditodong sekelompok orang.
hp mereka lenyap, dengan cara yang serupa dengan yang pernah terjadi pada teman saya yang lainnya.
penodongan ini terjadi di dalam angkot.
berikut link nya: http://galayudhatama.blogspot.com/2011/07/tentang-sejarah-dan-pengalaman.html

angkot yang biasanya ramai, angkot yang menjadi sarana transportasi umum.
untuk golongan masa depan bangsa, untuk para pencari nafkah, untuk kaum yang melahirkan generasi baru.
transportasi umum seharusnya bisa memberikan kenyamanan dan keamanan dalam fasilitasnya bagi seluruh masyarakat.

namun, lagi-lagi kemiskinan menjadi alasan untuk melanggar nilai dan norma yang ada.
copet, todong, rampok, maling, dan lain sebagainya.
"gelar" yang familiar di telinga kita. juga telinga mereka, yang melakukan.
apakah mereka malu dengan gelarnya itu? atau malah bangga?
Indonesia benar-benar telah mengalami krisis nilai dan budaya.
Negara yang ramah, bukan begitu kah dulu Indonesia dikenal?

Kekecewaan terhadap pemerintah, kadang juga membuat masyarakat berubah.
hati mereka berubah, demikian pula pikirannya.
rasa tidak tega, rasa hormat terhadap orang tua, pikiran luas ke masa depan,
seketika lenyap semua.
nilai yang katanya hanya di miliki manusia, kini luntur.
dan justru, manusia menganut nilai-nilai 'hewan'.

contoh yang pertama, waktu itu sepupu saya hanya berdua kakak beradik dirumah.
lalu ada orang dengan menggunakan helm memencet bel di depan pagar.
saat pintu dibuka, pria berhelm itu segera memanjat pagar dan menahan pintu dengan gesitnya,
sehingga sepupu saya tidak sempat menutup pintu.
alhasil, sang rampok berhasil masuk ke dalam rumah dan mengambil laptop baru sepupu saya,
yang belum habis dicicil.
benar-benar tidak berperasaan, apalagi, rampok ini juga sempat mendorong adik-adik sepupu saya.

lalu, seperti yang terjadi pada nenek saya, yang umurnya sudah kepala 6.
waktu itu, dia sedang naik angkot. saya lupa jurusan mana.
tapi seingat saya di sekitar jombang.
lalu tiba-tiba ada orang masuk ke dalam angkot, dan langsung menodongkan sebuah pisau.
ke depan wajah nenek saya, sambil berkata "hp mana!"
nenek saya segera memberi hp tersebut tanpa melawan, tentunya.
sesampainya di rumah, dengan ekspresi yang masih panik dan ketakutan,
dengan tangan yang gemetar, nenek saya menceritakan semuanya.
saya tidak tau harus berpikir mulai darimana.
mungkin saja, penodong tersebut melakukannya karena kebutuhan mendesak.
tetapi sebagai manusia biasa, seharusnya ia mempunyai hati dan otak, kan?
bagaimana bisa dia dengan teganya menodong, memegang pisau di depan wajah nenek saya?
bagaimana bisa dia melakukan hal tersebut tanpa rasa bersalah sedikit pun terhadap orang tua?

apakah kejahatan ini tidak bisa dihentikan?
apakah kita rela terus-terusan melihat kerabat kita satu per satu menjadi korban?
apakah kita mau terus-terusan dicap sebagai negara yang tidak aman?
apakah dengan mudahnya kejahatan-kejahatan ini akan menjadi 'budaya'?

saya yakin, pasti ada cara untuk menghentikannya.
entah bagaimana, tetapi harus dihentikan.

2 comments: