Tuesday, June 6, 2017

Kita Indonesia.

Just a little page of my opinion.

Jarang-jarang saya nulis kayak gini. Jujur saya gaktau apa tujuan saya untuk nulis tulisan ini. Saya Cuma pengen ceritain apa yang saya rasain dan pikirin.

Belakangan ini, isu SARA lagi-lagi jadi masalah di Indonesia, bahkan di dunia.
Sedih banget rasanya. Bukannya Indonesia harusnya jadi contoh negara yang punya banyak SARA dan hidup berdampingan dengan rukun? Karena seingat saya, dari SD sampai kuliah, gitu yang diajarin di Pendidikan Kewarganegaraan (Pkn/PPKN/Pendidikan Pancasila).

Kadang sangkin sedihnya, saya suka mikir, kenapa sih, kita harus diciptain beda-beda? Kenapa sih harus ada banyak agama di dunia ini? Tapi terus saya flashback lagi.

Saya lahir di keluarga Katolik, dan sampai sekarang saya memeluk agama Katolik. Papa saya keturunan Manado dan Mama keturunan Batak. Saya lahir di Papua, dan dari SMP sampai sekarang di Jakarta.

Dari kecil saya udah biasa jadi minoritas. Di Papua, di sekolah, mayoritas beragama Islam dan Kristen, sementara kami murid Katolik hanya berlima. Namun semuanya baik-baik saja.
Pindah ke Jakarta, saya masuk ke sekolah Katolik di BSD. Memang mayoritas siswa siswi beragama Katolik, tetapi hampir semuanya keturunan Tionghoa. Namun semuanya baik-baik saja.
Lalu saya masuk kuliah di Jakarta Selatan. Mayoritas di kampus ini Muslim. Dari awal masuk, saya agak menyesuaikan dengan lingkungan baru, karena di SMP dan SMA saya, salam tidak dibuka dengan “Assalamualaikum” dan tidak terbiasa mencium tangan guru. Namun saya bisa beradaptasi dan tidak ada masalah.
Di semester 6, saya pergi ke Bali untuk internship selama setahun. Lagi-lagi, saya minoritas karena hampir semua di hotel tempat internship adalah orang Bali yang beragama Hindu. Namun mereka merangkul saya, sangat welcome. Walaupun awalnya saya lebih banyak diam karena gak ngerti bahasa Bali, tapi lama-lama saya makin kenal dengan orang-orang sana dan semuanya berjalan dengan sangat baik. Bahkan membuat saya betah.

Di balik semua perjalanan saya yang baik-baik saja, memang, saya sadar isu SARA sudah menjadi masalah tersendiri yang turun temurun.

Di SMA, ada teman yang (maaf) Tionghoa dan takut sama (maaf lagi) pribumi Muslim. Ternyata dari kecil dia hidup di lingkungan yang itu-itu aja dan hanya lihat lingkungan luar dari berita. Lalu saya jelaskan bahwa dari kecil, saya berteman dengan teman-teman Muslim dan mereka baik, walaupun saya non-Muslim. Terorisme itu tidak sama dengan Muslim, dan Muslim bukan berarti teroris.

Lalu di kampus, ada teman yang (maaf lagi) Muslim dan berkata bahwa dia benci orang Tionghoa. Saya tidak tau, mungkin dari kecil dia juga hidup di lingkungan yang itu-itu aja dan belum pernah berteman dengan keturunan Tionghoa. Lalu saya jelaskan bahwa teman-teman terdekat saya adalah keturunan Tionghoa dan semuanya baik-baik saja walaupun saya bukan keturunan Tionghoa.

Saya pikir-pikir lagi, ternyata dengan hidup sebagai minoritas, justru saya bisa toleran terhadap teman-teman yang berbeda dengan saya, karena sudah terbiasa di lingkungan yang beda dengan saya, jadi perbedaan itu bukan masalah buat saya.

Di keluarga pun, ada tante saya yang Mualaf (masuk Islam) karena ikut suami. Otomatis saya punya dua sepupu yang Muslim. Semua baik-baik aja. Kita sering ke rumahnya kalau lebaran dan Tante juga sering jemput kita pulang dari gereja. Saya dan sepupu-sepupu juga main bareng, biasa aja.

Oh ya, tadi waktu ngobrol sama Mama, tiba-tiba saya ingat almarhum Opa. Opa orang yang baik. Baik banget. Beliau bukan kakek kandung, tapi ayah angkat Papa, karena waktu Mama dan Papa nikah, orang tua Papa udah gak ada. Opa Muslim, tapi Opa sayaaaaaaaang banget sama saya. Saya beruntung punya Opa angkat sebaik beliau, seenggaknya saya pernah ngerasain rasanya disayang sama sosok kakek. (Duh nangis pas nulis ini...) Keinget dulu setiap lebaran pasti kita ke rumah Opa, terus saya disuruh makan yang banyak, dibeliin kado. Masih nyimpen jaket pink “Barbie” dari Opa hehe. Kangen banget sama almarhum Opa Indrajid...


Pokoknya, suku apapun, agama apapun, ras apapun, pokoknya siapapun, kalau emang baik sama saya ya saya bakal baik kok. Nah iya, ngutip dari Gus Dur:
“Tidak penting apa pun agama atau sukumu.. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah tanya apa agamamu..”
Saya nemuin komen-komen yang malah nyinyir; “ya penting lah agama” “agama kan pedoman hidup” “wah parah masa agama ga penting”.

*Hela nafas* Duh, maksudnya tuh bukannya agama gak penting sayang-sayangku, tapi saya percaya, maksudnya itu, berbuat baik ya berbuat baik aja. Semua orang bisa berbuat baik dan sebaliknya bisa juga berbuat tidak baik, tidak ditentukan agamanya, tapi tergantung orang itu bertindak. Ya masa misalkan ada orang kecelakaan, terus tanya dulu apa agamanya baru mau ditolong? Sebaliknya, emang copet milih-milih korbannya harus agama apa? Lalu emang ada kriteria harus agama apa buat jadi copet? Harus ada kriteria agama apa buat jadi dokter yang mengabdi di pedalaman? Berbuat baik itu gak mengenal perbedaan agama dan suku, kalo mau baik ya baik aja. Kalo mau jahat ya jahat aja.

Beralih ke masalah yang baru-baru ini bikin heboh. Pak Ahok. Mungkin sebagian dari kalian menganggap Pak Ahok menistakan agama Islam, lalu berimbas jadi membenci suku Tionghoa dan agama Kristen. Dan mungkin sebagian dari kalian menganggap Pak Ahok dikriminalisasi, lalu berimbas jadi membenci Muslim.

Well.... ini pendapat saya. Yang Pak Ahok maksudkan itu jangan mau dibohongi DENGAN MENGGUNAKAN surat tersebut. Maksudnya gimana ya, misalnya, ada cerita jaman dulu penjual gorengan keliling nikah sama anak Presiden. Nah terus sekarang ada seorang penjual gorengan bernama A ngefans sama anak Presiden. Terus temennya si B bilang “kamu pasti bisa nikah sama anak Presiden, soalnya dulu ada cerita blablabla”. Nah terus temennya si C bilang “jangan dengerin si B, jangan mau dibohongin DENGAN MENGGUNAKAN cerita itu”. Nah disini, maksud dia bukan berarti cerita itu bohong, cerita itu mungkin saja benar terjadi. Tetapi maksudnya C, si B menggunakan cerita tersebut sebagai sarana berbohong. Ngerti gak sih my point? Hehe jelas gak sih...

But... di sisi lain, Pak Ahok mungkin gak seharusnya ngomongin hal itu di depan banyak orang, mengingat agama itu hal yang sensitif, dan kata-kata itu kan yah bisa diartikan beda-beda sama orang. Dan mungkin karena Pak Ahok sendiri non-Muslim makanya mungkin kedengeran agak “nge-judge” agama Islam.

Lalu... in my holy opinion, siapa yang salah? Yang salah itu koruptor-koruptor dan orang-orang yang memperdaya rakyat dengan mengatasnamakan agama, demi dapetin kepentingan pribadi nya, ngerelain kesatuan negaranya sendiri dan jadi dalang buat “perang suku/agama”. Well siapapun itu. Ya ampun... masih kurang kaya ya? Mau beli apa sih Pak/Bu... Semoga cepat dibukakan hatinya ya sama Tuhan sesuai agamanya masing-masing.

Terus, ini menurut pendapat saya aja ya, peraturan yang dibuat banyak yang “karet” alias bisa multitafsir. I meant like ada pasal “perbuatan tidak menyenangkan” dan “menistakan agama”? Definisi tidak menyenangkan tu apasih? Menyenangkan itukan relatif, menyenangkan buat saya belum tentu menyenangkan buat dia ya kan? Lalu agama itu yaa urusan pribadi lah antara umat dan Tuhannya. Gak sekalian dibikin “menistakan suku” jadi kalo orang becanda-becanda rasis bisa kena pasal?
Kalau emang menistakan agama menjadi masalah yang menjadi concern nya pemerintah, sekarang saya tanya apa membakar rumah ibadah agama lain itu kurang menistakan agama? Inget gak, orang-orang yang bakar Kelenteng cuma dihukum sebulan penjara? I meant HELLO where’s the justice???

Well saya bukan orang yang gemar politik dll jadi bisa aja ya pendapat saya salah, di sini saya cuma menumpahkan apa yang ada di pikiran dan hati saya.

Intinya gini, saya cuma pengen berharap, boleh kan berharap? Semoga kita generasi muda, semakin pinter dan cerdas dalam menghadapi isu-isu yang dibuat sama orang-orang tertentu buat kepentingan pribadinya. Kita generasi muda harus lebih berwawasan dan ber-attitude, jangan mudah dipengaruhi. Saya yakin semua agama mengajarkan hal baik dan tidak mengajarkan saling membenci. Tidak perlu tanya “apa agamamu” untuk berteman. Selama kita baik dan toleran, orang gak akan peduli kamu itu agama apa, suku apa, ya berteman berteman aja. Masa iya sih, gara-gara politik jadi musuhan sama teman atau bahkan keluarga sendiri?

Dan tolong teman-temanku, kita ini negara Bhinneka Tunggal Ika, bukan negara beragama homogen. Jadi bertepatan dengan bulan Ramadhan, tolong lah, jangan dimarahin apalagi dibongkar-bongkar orang-orang yang jualan makanan. Kasian, mereka juga kan kerja buat hidup. Mendingan mereka jualan kan daripada nyolong dengan alasan buat mudik dll? Lagian kan kita juga tau, gak 100% rakyat Indonesia menjalankan puasa, jadi biarin lah orang yang gak puasa bisa makan dan minum, toh kita juga gak yang sengaja makan minum di depan orang yang puasa kan? Tempat makan pun di tutupin kain kan? Saya pun mau minum atau makan juga ngumpet dari orang yang puasa, walaupun banyak yang bilang “gakpapa, makan aja.” “gakpapa, kan emang tugas gue nahan nafsu” dan lain-lain. Tapi saya coba menghargai mereka.

Untuk teman-temanku yang Muslim, percayalah, kita gak benci kalian. Kita benci orang yang berbuat jahat dan mengatasnamakan agama kalian untuk melakukannya. Negara Arab bahkan mengatakan bahwa terorisme itu tidak dibenarkan. Jadi sudah jelas kan bahwa terorisme bukanlah Muslim yang sebenarnya. Saya yakin kok Muslim juga mengajarkan untuk berbuat baik.

Untuk teman-temanku sesama non-Muslim, percayalah, bukanlah agama Islam yang melakukan teror dan menyatakan perang terhadap kita, melainkan sekelompok orang yang menginginkan perpecahan dan benci perbedaan. Percayalah bahwa mereka pun aslinya gak gitu, cuma mungkin ada yang pengaruhin pikirannya.

Intinya, please, do tolerate. Kita Pancasila kan? Jangan sia-siain perjuangan pahlawan-pahlawan kita yang mati-matian bebasin kita dari penjajah, merdekain negara ini, terus sekarang kita malah ngancurin negara kita sendiri cuma gara-gara masalah perbedaan yang sebenernya kita tau kita emang udah beda dari awal. Negara ini punya kita sama-sama, apapun agamanya. Bukan punya sekelompok orang. Jadi pleaseeee banget temen-temenku, jangan saling benci, jangan musuhan, karena itu yang diinginkan “dalang-dalang” buat dapetin kepentingannya. Percaya, semua agama itu baik. Cuma persoalan “cara” mana yang kita masing-masing pilih.

Salam Bhinneka Tunggal Ika :)



-RAL-

Monday, April 17, 2017

Pelangi?

Perbedaan.

Satu kata, seribu makna, berjuta cerita.

Sebuah kata ini seharusnya bisa menjadi rangkaian yang indah seperti pelangi. Ya, kamu tau kan pelangi itu terdiri dari warna-warna yang berbeda? Indah kan?

Tapi pada kenyataannya, perbedaan justru dijadikan orang sebagai alasan untuk menyakiti orang lain. Bahkan satu perbedaan sederhana saja, bisa membuat sebuah perdamaian hancur.

Bicara soal perbedaan pada manusia di zaman ini, pastinya sudah muncul beberapa kata di pikiran kalian. Perbedaan kaya-miskin, tingkat pendidikan, kelas sosial, cara bergaul, warna kulit, logat bicara, bentuk mata, bahasa, cara menyembah Tuhan, juga cara memperlakukan sesama.
Tunggu dulu, yang terakhir, apakah benar seharusnya berbeda?

Saya orang Indonesia, negara dimana lambang negara nya menyerukan “Bhinneka Tunggal Ika” yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu. Negara, di mana kata “adil” disebutkan dua kali dalam lima sila nya.

Indonesia mengakui segala suku di negerinya, yah, walaupun anak kesayangannya duduk di pulau Jawa, sedangkan anak lainnya mungkin sesekali ditengok, eh, atau mungkin akan diakui ketika akan “diculik” tetangga. Hmm, yang penting diakui dan terdata lah.
Indonesia juga mengakui 6 agama di negaranya; Kong Hu Chu, Katolik, Hindu, Kristen, Buddha, dan Islam. Eh, urutannya betul atau salah ya? Tapi semuanya punya hak yang sama kan? Jadi urutan yah tidak terlalu penting lah.

Saya yakin, semua suku dan agama pasti mengajarkan umatnya untuk melakukan hal baik, saling mengasihi dan mencintai, saling menghormati dan tolong-menolong, bla-bla-bla.......
Kenapa bla bla bla? Karena biasanya orang-orang tidak suka membaca teori terlalu panjang.
Ya, pada kenyataannya, ketika situasi berkaitan dengan kekuasaan, berkaitan dengan politik, kepentingan pribadi, dan A dan B dan C, situasi ini berbalik. Ajaran-ajaran baik seakan dilupakan dan kepercayaan seakan dijadikan nama “gank” yang siap bertarung di jalan. Kutipan-kutipan untuk patuh pada Tuhan disalahgunakan untuk menjadi senjata yang menghakimi benar dan salah.

Lalu, ketika bicara soal hak, pasti dikatakan bahwa setiap manusia memiliki Hak Asasi Manusia, bahwa semua manusia itu sama. Kita harus berteman dengan siapa saja, jangan memandang ia berasal dari kelompok mana. Namun, ketika bicara soal percintaan, mengapa perbedaan menjadi suatu hal yang begitu krusial? Bukankah semua agama mengajarkan cinta? Saya tahu benar bahwa pendapat saya akan ditentang banyak orang, bahkan mungkin agama dan suku saya sendiri. Namun apalah arti suku apabila semua mempunyai hak yang sama? Dan apalah arti agama apabila semuanya mengajarkan hal baik? Saya mengerti bahwa setiap agama mengharapkan umatnya untuk berpasangan dengan seseorang dari agama yang sama. Tetapi, apa cinta memilih dan dipilih? Apakah ketika saya mengetahui sebuah perbedaan, perasaan itu akan hilang? Dan apakah ketika saya menemukan kesamaan, perasaan itu harus muncul? Atau mungkin perjodohan harus tetap dilestarikan dan perasaan dikesampingkan?
Mengapa harus sama? Mengapa tiba-tiba perbedaan itu menjadi sangat jelek dan menyakiti?

Saya mengalami dan mendengar banyak cerita tentang perbedaan itu. Perbedaan suku dan agama yang akhirnya memisahkan dua orang. Dua orang yang telah saling menerima kekurangan-kekurangan pasangannya hingga yang paling buruk – namun tak bisa menerima perbedaan pasangannya. Jadi, perbedaan itu lebih buruk daripada segala kekurangan lainnya?

Faktanya, banyak perubahan positif yang dilakukan di negeri barat untuk menghilangkan batas-batas perbedaan antar manusia, dan berefek pada negara ini. Semoga saja, cepat atau lambat perbedaan ini juga akan diterima di Indonesia.

Sadarkah bahwa negara-negara lain bahkan mengagumi banyaknya budaya dan keragaman di Indonesia? Mereka menyebut semua itu indah. Kita, yang di dalam negara ini, kenapa justru seperti membenci keragaman ini? Apa yang kita lakukan?

Akhir-akhir ini, saya lebih sering mengekspos kegiatan agamais dan kutipan rohani menurut agama saya. Beberapa orang mungkin kesal. Mungkin ada yang berpikir saya ingin mengganggu agama lainnya? Mungkin ada yang berpikir saya sok beriman atau fanatik? Terserah, karena setiap manusia punya hak untuk berpikir.
Nyatanya, saya melakukan itu semua untuk mengatakan pada dunia bahwa saya, kaum minoritas di negara ini eksis, dan saya berani menjadi saya. Saya ingin memberitahu dunia bahwa Indonesia kaya. Kaya, karena perbedaan kita yang begitu banyak, membuat Indonesia berwarna, seperti pelangi. Saya juga ingin memberi semangat bagi orang lain yang merasa dirinya berada di kelompok minoritas, agar mereka tidak malu dan meninggalkan kelompoknya, agar mereka tetap percaya diri untuk menjadi mereka sendiri. Karena kita dan mereka punya hak yang sama untuk mengajak teman-temannya beribadah, melalui media sosial.

Walaupun warna “nila” dalam pelangi tidak sejelas merah, kuning, dan hijau, tetapi “nila” adalah bagian dari pelangi.
Pelangi tidak akan menjadi pelangi, apabila warnanya hanya merah.
Pelangi tidak akan indah dan dikagumi, apabila warnanya hanya kuning.
Pelangi, ya warna-warni.



-RAL-

17/04/2017 – 2:32 AM

Sunday, April 20, 2014

Kanan dan Kiri

Kita ini sepasang mata, melihat hal yang sama di waktu yang sama. 
Kita ini sepasang sayap, bersama membentang dan terbang.
Kita juga sepasang sepatu, berjalan beriringan melangkah bergantian.

Tapi...
Layaknya sepasang mata, kita tak bisa saling melihat. 
Seperti sepasang sayap, kita tak bisa saling menyentuh.
Dan sama dengan sepasang sepatu, kita tak bisa melangkah bersama.

Karena yang kanan tetap di kanan, dan yang kiri tetap di kiri.
Aku dan kamu terjebak perbedaan, tapi tak mau berdiri sendiri.


(ral)

Thursday, April 10, 2014

Sebuah Pelindung (3rd Version)

Saat itu, matahari mulai menuju pinggiran bumi. Dengan lelah aku menaiki motor tuaku, meninggalkan kampus dan berkeliling sebentar tanpa arah. Aku hanya sedih, karena kekasihku memutuskan untuk meninggalkanku dan memilih laki-laki lain. Aku berjalan terus, mengikuti arah angin yang meniupku. Mungkin aku bisa mendapat sedikit hiburan?

Tanpa terasa aku melewati sebuah mall. Aku menoleh, lalu memutar balik motorku dan masuk ke dalamnya. Sesampainya aku di dalam area parkir, aku melihat pemandangan deretan motor yang memenuhi area tersebut, juga beberapa motor lain yang berputar mencari tempat untuk mendudukkan kuda mesinnya. Panas mesin kendaraan menusuk kulitku. Bulir-bulir keringat berjatuhan dan membasahi helmku. Aku membuka helm, memperhatikan area tersebut, berharap ada tempat untuk motor tuaku ini.Pelan, aku berputar mencari tempat. Panas semakin mengusir kehadiranku. Aku pun memutuskan untuk meninggalkan tempat ini, walaupun belum ada tiga ku langkahi. 

Menuju ke pintu keluar, aku melihat sebuah vespa berkilau terparkir di ujung barisan. Vespa lama, namun sangat terurus. Di atasnya ada dua helm dan satu map. Map perempuan. Aku tidak begitu tertarik dengan map itu. Tetapi helmnya… Yang satu helm vespa biasa. Dan yang satu, helm mahal! Helm yang selama ini aku inginkan. Tanpa pikir panjang, aku berhenti di samping vespa tersebut. Sambil berpura-pura membetulkan sesuatu, aku menggantung helmku di motor dan memperhatikan sekitar. Setelah merasa aman, aku mengambil helm idamanku itu, memakainya dan segera meninggalkan tempat itu.

Kringggggggg

Handphoneku berbunyi. Dari teman kampus.

      "Halo?” kataku menjawab telepon sambil membawa motorku ke pinggir.
      "Dimana?” tanyanya.
      “Jalan pulang nih. Kenapa?” tanyaku lagi.
      “Ke cafĂ© biasa ya, lagi pada ngumpul nih, kurang lo doang. Gue tunggu,” katanya lalu menutup telepon.

Aku mengantongi lagi handphoneku dan segera menyusul teman-temanku. Tentunya dengan helm baruku.

      “Woy, dari mana aja lu? Sini gabung,” sambut seorang teman saat aku sampai.
      “Hehe, muter-muter iseng aja tadi. Makan deh yuk, laper,” kataku lalu bergabung dengan yang lain.

Setelah perut terasa kenyang, kami mengobrol dan bercanda seru, sampai tak terasa, malam datang. Entah gelas kopi keberapa yang ku seruput, nikmatnya malam dan pembicaraan melarutkan jalannya waktu. Sampai…

      “Misi, itu motor tua yang plat nomornya B 3859 AX punya siapa ya? Kata mas nya dari meja ini,” tanya seorang perempuan. Galak. Ia ditemani kekasihnya yang hanya diam dengan wajah yang dingin.
      “Saya. Kenapa?” tanyaku dengan kesal, melihat ekspresi mereka berdua.
      “Jadi gini, gue sama pacar gue ke sini mau nyari makan. Tapi perjalanan ke sini nya, gue gak pake helm. Tau kenapa? Soalnya helm yang satu dicolong orang tadi waktu parkir di mall. Beruntungnya, secara kebetulan gue ngeliat helm itu tadi pas markir di sini. Dan pacar gue udah ngecek, itu emang punya dia, ada tandanya. Jadi sekarang buka kunci jok motor lo, dan balikin helm nya,” kata perempuan itu dengan cepat dan jelas. 

Aku ingin melawan. Tetapi dengan apa aku bisa? Memang aku yang salah, aku tak punya alasan. Malu mulai melukiskan warnanya di pipiku. Aku melihat teman-temanku. Mereka ternganga diam. Segera aku berdiri dan mengarah ke motorku. Aku membuka kuncinya dan memberikan helm tersebut ke pasangan itu.

      “Untung gak gue laporin polisi lo!” kata perempuan itu, masih galak. Aku tertunduk bisu karena malu. Perempuan itu segera meninggalkan aku, diikuti pacarnya.
      “Sayang ya, banyak gaya tapi maling. Lu tuh udah hampir diabisin,” laki-laki itu akhirnya angkat bicara. Dingin, tenang, tapi menusuk.
      “Untung lo cewe!” katanya lalu pergi, meninggalkan aku yang berdiri terpaku dan dipenuhi rasa malu.


(ral)

Wednesday, April 9, 2014

Sebuah Pelindung (2nd Version)

Siang itu, sepulang kuliah, aku pergi ke sebuah mall dengan kekasihku. Aku memarkir vespa kesayanganku di tempat parkir. Kedua helm yang adalah milikku kami letakkan di atas jok. 

“Aku males bawa map deh. Ilang gak ya aku taro di sini?” tanya pacarku sambil meletakkan map kuliahnya di sela jok.
“Gak tau, tapi bawa aja sih,” jawabku sambil merapikan posisi kedua helm di atas jok.
“Ke penitipan barang aja yuk, nitip map aku, helm, sama ransel kamu,” ajaknya.
“Bayar tau, buang-buang duit ah. Katanya mau movie marathon?” tolakku.
“Hmm, yaudah deh,” katanya sambil meletakkan mapnya di sela jok motor.

Kami pun meninggalkan vespa beserta kedua helm dan map nya di tempat parkir. Lalu kami masuk ke dalam mall dan menikmati bahagianya waktu luang.
Sampai hari mulai malam, kami memutuskan untuk makan di luar mall. Kami berjalan beriringan menuju tempat vespanya diparkir. Dari jauh terlihat kilau vespaku dengan bentuknya yang seksi.

“Map ku gak ilang! Hahaha,” katanya padaku dengan ceria, sambil melompat-lompat sedikit.
“Eh, helm aku mana?” belum sempat ku menjawabnya, aku langsung panic melihat helmku yang kini hilang.
“Loh? Tadi kamu taro di atas jok kan? Ini helm kamu yang aku pake ada kok. Mana ya?” jawabnya sambil mencari-cari helm itu ke segala arah.
“Masa diambil orang sih? Aduh, itu helm mahal banget lagi!” Kataku kesal. Terang saja, itu helm kesayanganku!
“Eh masa sih? Baru kali ini deh aku tau helm ilang, biasanya aman-aman aja,” jawabnya polos.
“Ya sama, aku juga baru pertama kali,” kataku sambil mencoba menurunkan emosiku.
“Hmmm, lapor aja ya ke petugas?” ia mencoba memberi solusi.
“Ah, percuma. Gak ada CCTV. Gak bakal ketemu, lama-lamain doang. Yaudah lah,” katanya pasrah, namun kesal.
“Kamu sih, udah aku bilang tadi ke penitipan. Bener kan ilang?” katanya yang tiba-tiba menambah tekanan darahku.
“Penitipan itu bayar. Dan kita mau movie marathon. Kamu kira aku punya banyak duit buat bayar semua? Udah deh ah. Mana helmku yang kamu pake tadi?” emosiku separuh meledak.
“Nih,” katanya singkat dengan nada yang kesal, sambil menyodorkan helmku yang tadi ia pakai.

Mendengarnya, aku sedikit menyesal telah mengatakan ucapan yang tajam tadi. Tetapi aku diam saja, memakai helm tersebut dan menjalakan vespaku. 

Perjalanan kami tempuh dalam diam. Sambil mengendarai vespa, aku memikirkan helmku, perkataanku tadi, dan pacarku yang begitu diam dibalik punggungku.

“Yang, awas!!!!” teriaknya tiba-tiba.

Kami terpental dari vespa. Aku terlempar ke sebuah mobil lalu jatuh ke jalan. Aku menoleh ke arah kekasihku. Ia tergeletak berlumuran darah di atas trotoar. Aku menoleh lagi ke arah vespaku. Kami tertabrak sebuah truk. Itu hal terakhir yang aku ingat.

“Ayo bangun dong, Sayang…” samar-samar terdengar suara perempuan di hadapanku. Aku membuka mata perlahan. Silau. Ku coba lagi dan akhirnya mataku terbuka.
“Mama??” kataku terkejut. Aku melihat sekeliling. Rumah sakit. Oh iya, terakhir kali aku sadar, aku dan pacarku jatuh dari vespa. Eh…
“Mam, pacar aku mana???” tanyaku panic, begitu sadar akan kejadian terakhir yang menimpa kami.
“Hmmm, dia… Dia…” jawab mamaku yang lalu terdiam tanpa menyelesaikan kalimatnya. Aku terdiam lalu mengingat kembali apa yang terjadi. Ia tergeletak dengan darah, dan… Ya Tuhan, dia kan tidak memakai helm!
“Mam, dia dimana?” Tanyaku semakin panic. Sebelum mamaku membuka bibirnya, dokter masuk ke kamar itu.
“Eh, udah sadar? Gimana perasaan kamu?” tanya dokter dengan tenang dan ramah.
“Dok, pacar saya mana?” tanyaku tanpa peduli akan pertanyaannya.
“Hm… Maaf, tapi nyawanya tidak bisa tertolong. Ia mengalami benturan yang sangat keras di bagian kepala. Pendarahannya parah. Ia bahkan sudah kehilangan nyawanya sebelum kami melakukan tindakan apapun,” jawab dokter dengan prihatin.

Aku tidak dapat berkata-kata. Air mata seketika menyerbu kelopak mataku, memenuhinya lalu bertumpahan jatuh dipipiku. Rasa sesal menyesakkan seluruh dadaku. Terakhir bertemu dengannya, aku melontarkan kalimat yang pedas. Dan, aku yang meminta helm itu… Aku yang mengendarai vespa sambil melamun. Aku yang membiarkannya duduk di atas vespaku, dengan resiko tinggi dan tanpa pelindung. Aku… 

Aku yang menyebabkan orang yang paling aku cintai, meninggalkan aku dan juga dunia ini…


(ral)

Sebuah Pelindung

Udah lama ga muncul di dunia per-blog-an.
Well, ini mau ngepost satu cerita yang idenya sih dari true story, tapi ceritanya sama sekali enggak, apalagi endingnya, makin ngelantur hehe.
Gue bikin 3 sudut pandang, masing-masing dengan ending yang beda.
Well, this is the first version, the other two will be posted separately.
Enjoy!

***




Siang itu, sepulang kuliah, aku pergi ke sebuah mall dengan kekasihku. Ia memarkir vespa kesayangannya di tempat parkir. Kedua helm yang adalah miliknya kami letakkan di atas jok. Aku tak ingin membawa map kuliahku ke dalam mall, maka aku meletakkannya di sela jok.

“Ilang gak ya aku taro di sini?” tanyaku padanya.
“Gak tau, tapi bawa aja sih,” jawabnya.
“Tinggal aja deh hehe, semoga aja gak ilang,” kataku akhirnya sembari meletakkan mapku.

Kami pun meninggalkan vespa beserta kedua helm dan map ku di tempat parker. Lalu kami masuk ke dalam mall dan menikmati bahagianya waktu luang.
Sampai hari mulai malam, kami memutuskan untuk makan di luar mall. Kami berjalan beriringan menuju tempat vespanya diparkir. Dari jauh terlihat kilau vespa dengan bentuknya yang seksi.

“Map ku gak ilang! Hahaha,” kataku padanya dengan ceria, sambil melompat-lompat sedikit.
“Eh, helm aku mana?” tanpa menjawab pernyataanku, ia terlihat panic melihat helm yang dia pakai kini hilang.
“Loh? Tadi kamu taro di atas jok kan? Ini helm kamu yang aku pake ada kok. Mana ya?” jawabku sambil mencari-cari helm itu ke segala arah.
“Masa diambil orang sih? Aduh, itu helm mahal banget lagi!” Katanya kesal, 
“Eh masa sih? Baru kali ini deh aku tau helm ilang, biasanya aman-aman aja,” jawabku.
“Ya sama, aku juga baru pertama kali,” katanya sambil menenangkan diri sendiri.

Di tengah percakapan kami, aku melihat dari ekor mataku, sebuah motor merah tua melintas dengan helm yang tak asing. Ia sudah di jalur keluar, menuju loket pembayaran parkir.

“Eh itu bukan helm kamu???” tanyaku padanya sambil menunjuk ke arah motor tua itu.
“Iya! Aku yakin banget, helm itu jarang banget,” jawabnya.

Aku segera lari melintasi jalur parkiran yang sempit itu, melompati beberapa motor jika terlalu menyita waktu untuk menghindarinya. Sampailah aku di sebelah motor tua dan pengendaranya yang kini terlihat panik. Ia mencoba menarik gas penuh, tetapi terlambat, aku lebih cepat. Ku tarik bajunya kuat-kuat sampai ia dan motornya berbelok ke tempat yang lebih luas.

“Heh maling, jangan lari! Sini lu!” bentakku pada pengendara itu sambil menariknya.
Ia oleng dan turun dari motornya.
“Buka helm pacar gue!” bentakku padanya.
“Nggak! Ini, ini helm gue!” katanya berbalik marah.
Perempuan, ternyata. Terdengar kebohongan dari kata-katanya.
“Balikin, atau…”
“Atau apa?” katanya memotong ucapanku.

Tanpa bisa menahan diri, aku membuka paksa helm itu lalu menghajar pipi kirinya. Ku kira pertengkaran ini hanya berhenti sampai di situ. Aku salah. Ia bukan perempuan lemah, sama kuat denganku. Ia balas pukulanku. Kami pun bertengkar ala dua pendekar— atau dua agen FBI. Beberapa pukulan dan tendangan juga tangkisan yang kami keluarkan mengundang perhatian orang-orang di sekitar kami. Aku mulai menyadarinya dan memutuskan untuk menghentikan perkelahian ini. Aku memutar badan dan menendang kepalanya dengan keras. Ia terjatuh telentang di lantai. Aku segera mengambil helm pacarku, menarik tangannya dan segera menaiki vespa. Kami pun pergi dari tempat itu.

“A..aku…Aku gak tau kamu bisa bela diri kaya gitu,” katanya yang masih sangat shock menyaksikan kejadian tadi.
“Itu reflek doang, yah maklum, aku diajarin papa beberapa jurus. Aku udah bilang kan dia ban hitam?” jawabku sambil bercanda.
“Oh gitu… Tapi kamu keren banget tadi. Aku bener-bener kaget,” katanya lagi.
“Hahaha, biasa aja ah. Mungkin karna kamu kira aku manja aja kalii, hehehe,” kataku mengakhiri percakapan tersebut.

Yah, mungkin ini hanya kejutan yang pertama. BIar saja ia tak tau betapa besar ancaman yang datang padanya tadi. Biar saja ia tak tau bahwa ayahnya adalah orang penting yang dibenci banyak orang. Biar saja ia tak tau bahwa map yang aku tinggalkan di atas vespanya adalah alat pelacak dan perekam. Dan biar saja ia tak tau, bahwa aku adalah agen rahasia yang dibayar ayahnya untuk melindunginya.


(ral)

Monday, December 9, 2013

Small Things, Big Impacts.

Ini cerita tentang cidera lutut gue...

Waktu itu, hari Sabtu, tanggal terakhir di bulan November.
Gue dan keluarga lagi sibuk pindahan karna rumah mau direnovasi.
Kita mau pindah ke rumah kontrakan di komplek yang sama, cuma beda blok.
Karna gue inget ozone tinggal sebentar lagi, gue bela-belain naik ojek ke O2 buat latihan kelas breaking atau biasa disebut bboy.
Dengan kondisi berdebu dan belum mandi, gue baru inget hari itu adalah deadline pemakaian voucher hadiah battle waktu Let's Get Boogie.
Masih ada 100.000 punya De Juniors dan gue yang pegang.
Merasa gaenak, gue contact tuh temen-temen Juniors.
Tapi karna sorenya udah janjian mau pergi sama temen, jadi gue bela-belain ngomongin itu voucher di line sama Juniors, sambil nunggu Ka Adit dateng.
Yang harusnya waktu itu gue pake untuk pemanasan.
Pas Ka Adit dateng, mulai kan koreo.
Ngulang beberapa kali, lancar.
Pas mau detailin ulang, sehabis dolphin, gue belly.
Pas belly, kerasa di lutut ada yang geser tapi langsung balik.
Gue kira gue gapapa, tapi langsung lemes.
Langsung gue panggil Ka Adit dan gue dikasih pertolongan2 pertama.
Dan ya gue nangis...
Tapi rasanya masih gaenak, kaya ada yang ga beres di dalem.
Akhirnya gue dianter mamanya Aaron dan Ka Lutfi ke Pak Iwah.
Pas diurut dan dibilang emang geser, sakit tuh kan, gue nangis lagi.
Abis itu jalan udah enakan.
Terus gue pulang.
Sampe rumah masih kerasa gaenak.
Malemnya urut lagi tuh.
Sakit...

Setelah itu beberapa kali gue masih masuk latihan.
Gak gerak pol, pastinya.
Cuma gerak tangan, yah gitu-gitu sekedar ngafalin deh.
Gue mikirnya biar gue ngejernya gak berat-berat banget nantinya.
Gue pengen banget, show di Ozone Vol.3...

Kamis, 5 Desember 2013. Pagi-pagi jam 8, gue urut lagi.
Sakit, gue nangis lagi.
Pas itu disuruh istirahat, dan setelah konsultasi soal show gue, Pak Iwah bilang sebaiknya gue istirahat dulu. 
Terus dia ceritain ada atlet bulu tangkis yang pernah geser juga lututnya, terus bandel dan jadinya lebih parah lalala.
Di sini di otak gue secara cepat langsung bayangin ke depan gitu.
Pasti gue di larang ikut ozone.
Pasti gue jadi nonton doang.
Pasti sedih...
Dan ya, bener gue disuruh ngundurin diri sama bokap.
Pas ngomong sama Pak Iwah gue mulai nangis bombay.
Sampe jalan ke mobil gue cukup tenang.
Gue berusaha tenangin diri, buat nelfon Ka Adit.
Awalnya berhasil.
Setelah ngomong sama Ka Adit, gue gabisa nahan sedih.
Serius sedih banget. Berasa diputusin.
Berasa kehilangan sesuatu yang lo perjuangin berbulan-bulan.
Kehilangan sesuatu yang udah lo pentingin dan biikin lo ngorbanin yang lain.
Sesuatu yang sepenting itu buat gue.
Sambil ngomong sama Ka Adit, gue ngerasa makin terisak-isak dan makin gajelas.
Itu gue nelfon di mobil, otw dari bsd ke kampus.
Sampe udah mau sampe kampus, gue belom bisa berhentiin air mata.
Gimana dong... mana udah telat sejam ke kampusnya.

Sampe di kampus gue langsung naik ke lantai 4 dan masuk kelas Bahasa Inggris dengan suntuk.
Pada ngeliatin, sebagian nyadar gue kenapa-kenapa.
Gak mood belajar. Tapi gue paksa-paksain.
Mau profesional, tapi keinget terus dan ganggu pikiran.

Setelah pelajaran Inggris, pelajaran SIK (Sistem Informasi dan Komputer).
Dan, kelompok gue harus presentasi.
Guess what?
Presentasinya ada di laptop gue, dan laptop gue ada di rumah.
Gue telfon-telfon bokap gak diangkat.
Akhirnya gue sama Nur dan motornya pulang.
Sampe di rumah bokap kaget gue pulang.
Gue jelasin lalala, ternyata hp bokap ketinggalan di mobil makanya ga diangkat.

Singkat cerita, Sabtu kemaren gue nonton Frozen.
Dan kemaren gue nonton The Impossible.
Di situ gue kayak ditegur banget buat bersyukur.

Gue sadar sih, mungkin selama ini gue suka ngeremehin hal-hal kecil kaya pemanasan.
Gue juga kadang suka ngeremehin latihan.
Mungkin gue banyak ngeluh, ga bersyukur.
Ternyata semuanya tuh perlu disyukurin.
Karna tanpa hal kecil, hal besar juga terganggu.
Misalnya pemanasan. 
Pemanasan itu cuma starter, tapi penting, berpengaruh.

Well, sampe sekarang, gue masih rada pincang kalo jalan.
Kalo naik-turun tangga masih lama.
Tapi udah better sih, makin baik perlahan.
Pengen cepet sembuh...
Pengen lari, pengen loncat, pengen olahraga, pengen dance...

I do believe in You, God...

Wednesday, October 9, 2013

Let Her Go

Well, you only need the light when it's burning low,
Only miss the sun when it starts to snow,
Only know you love her when you let her go.

Only know you've been high when your'e feeling low,
Only hate the road when you're missing home.
Only know you love her when you let her go,
And you let her go.

Staring at the bottom of your glass
Hoping one day you'll make a dream last
But dreams come slow and they go so fast

You see her when you close your eyes
Maybe one day you'll understand why
Everything you touch surely dies

But you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

Staring at the ceiling in the dark
Same old empty feeling in your heart
'Cause love comes slow and it goes so fast

Well you see her when you fall asleep
But never to touch and never to keep
'Cause you loved her too much and you dived too deep

Well you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go
And you let her go
Ooooh ooooh ooooh

And you let her go
Ooooh ooooh ooooh

Well you let her go

'Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

'Cause you only need the light when it's burning low
Only miss the sun when it starts to snow
Only know you love her when you let her go

Only know you've been high when you're feeling low
Only hate the road when you're missing home
Only know you love her when you let her go

And you let her go



(Passenger)


Friday, September 20, 2013

Missing

Here I am, on this lonely night
Laying on this empty bed
Missing you like an idiot
Thinking things I shouldn't have thought

So here I am, drowned.
Wondering if you are, too.
I don't wanna fall to deep
But with one kiss you sink me down.

Baby, what's wrong with your face?
Why does it show in every place?
Are we in love that much?
Or is it just me being so addicted?

-ral.

Tuesday, July 30, 2013

Nostalgia

Hari ini gue beresin kertas-kertas dan buku-buku. Misahin ke dus-dus, yang mana yang mau disumbang, yang mana yang dibuang, dan yang mana yang masih dipake. Terus banyak ketemu map-map dan coretan-coretan jaman dulu, ngakak banget dah. Ada yang norak, kocak, sedih, lucu, sebagainya sebagainya.
yang pasti kangen banget sama Tembagapura (post tentang itu nyusul), terus inget-inget jaman SMP juga kocak banget. 
Nah terus pas bongkar-bongkar ketemu ini nih, kayaknya sih dibikin kelas 10 atau 11 gitu. Lumayan loh hahaha

Di kala kita merasa hampa
Saat terjatuh, gagal, terluka
Dan mulai dihantui putus asa
Bangkitlah, dan syukuri yang ada

Saat kita mencari jati diri
Ingatlah, tak ada bayi berlari
Bersusah, demi meraih mimpi
Kejarlah terus tanpa henti

Ia memberi beragam talenta
Percayalah pada diri 
Hidup tak ada artinya
Jika kita terus menyesali

-Ral.

Friday, July 5, 2013

Girl Power

Who says it's easy to be a girl?
To be a girl everyone likes.

I'm not against guys.
I'm just speaking for girls.

Serba salah. Yup, itu kata yang paling bisa gambarin situasi nya.

Pertama dan yang paling sering terjadi.
Ketika cewek baik dan friendly, dikatain respon atau gampangan.
Ketika cewek cuek, dikatain jual mahal, sombong, kepedean, kegeeran.

Ketika cowok punya temen deket cewe, dianggep normal.
Ketika cewek punya temen deket cowo, naughty, huh?

Guys, please.
STOP JUDGING.

another case,
for those who don't like to dress up.
kebanyakan cewe peduli sama penampilan.
dan hampir semua lebih peduli lagi kalo event yang bakal dijalanin itu spesial.
contoh, prom night, birthday party, gathering, etc etc, or even..... a date.
a date, for me personally, when it comes to a celebration like anniversary or stuffs, is important
guys, we don't want to judge how you wear.
But please at least appreciate us.
kalo udah even anniversary contohnya, terus lagi date niat.
cewenya udah dandan cantik-cantik, milih baju susah-susah, pake sepatu tinggi mungkin supaya keliatan lebih iye lagi.
yaaaa at least jangan pake sendal jepit sama celana main di teras laaah.
apalagi sendal hotel (swear to God I hate to see guys wearing sendal hotel to malls -_- )

yaaa mungkin untuk some guys, ini hal sepele.
tapi mungkin untuk ciwi-ciwi, and me personally, ini penting coy.
pakaian itu mempengaruhi loh. 
gak harus mahal, yang penting jangan ngasal.

aaaaand, another another case...
don't judge cewe itu lemah.
Guys, we tolerate pain more than you guys do.
ada kok teori medisnya.
melahirkan, etc etc yang gakperlu disebut.
apalagi judge lemah dari air mata.
heroes are those who have heart that can be touched.
not those who are iron-hearted.

last of all.
all these bacotan are in my holy opinion.
so I'm sorry if you disagree something :)







Friday, June 14, 2013

Elemen

Aku ingin menjadi api
yang dapat menerangi
yang membakar semangat karya
dan hangatkan suasana

Aku ingin menjadi air
yang dapat melepas dahaga
yang membersihkan segala
dan buat hidup mengalir

Aku ingin menjadi angin
yang dapat menghembus kesegaran
yang membawa berita gembira
dan mendukung nafas manusia

Dan aku ingin menjadi tanah
dimana orang-orang berpijak
dimana ketiga elemen berdetak
yang memberi manfaat berlimpah

Aku ingin menjadi elemen
yang berguna bagi orang lain.

-ral

Monday, June 10, 2013

Bertualang ♥

Aku ingin selalu bertualang denganmu
Seperti hari ini, di dunia kita berdua
Hanya aku dan kamu
Melukis memori tak terlupa

Hari ini, untuk pertama kalinya
Ku arungi hutan yang baru
Karena aku melihat kamu
Di masa depan dewasa

Segala perih takkan terasa
Karena kamu sebuah pelita
Yang bisa curi waktuku
Dan segala tawa juga senyumku

Tak bisa ku ungkap dengan kata
Besarnya cita yang ku rasa
Hanya satu ku tau pasti
Jangan pernah kamu pergi


Dan kita akan mengarungi petualangan lainnya

♥♥♥

Friday, May 10, 2013

Abu-abu



Berkali lari di kepala.
"Aku ini hitam"
Esoknya melompat lain
"Aku ini putih"
Terulang tak terhitung.
Lalu aku sadar.
Aku tak bisa mengaku hitam.
Dan aku pun tak bisa mengaku putih.
Bukan hanya tak bisa, aku pun tak tau.
Aku tak tau apakah aku hitam atau putih.
Aku hanya bisa menerima.
Bila hitam datang warnaku semakin gelap.
Bila putih datang warnaku semakin terang.
Karna aku abu-abu,
yang tak lepas dari keduanya,
yang tak bisa memilih hitam atau putih.
Biarkanlah,
ini hanya permainan warna.


-ral


Saturday, April 27, 2013

Dia

Dia, orang yang tak asing.
Dia, entah teman entah musuh.
Dia, aku tak tau pasti.
Dia, mana yang kau maksud?

Dia, orang yang tak jauh.
Dia, entah kau hormati atau kau hina.
Dia, kau tak tau pasti.
Dia, mana yang ku maksud?

Dia, yang dibenci diam-diam?
Atau dia, yang dicinta diam-diam?

Dia...
Siapa dia?

-ral-

Wednesday, April 10, 2013

Perlahan

Mengapa kau pinta lebih
Saat kau dapat yang kau cari
Mengapa kau beri kurang
Saat kau jadi yang dicari

Semua telah terasa indah
Telah sempurna bagiku
Jangan kau mengubah atau berubah
Ingatlah yang dulu menarik hatiku

Tak usah kau buru waktu
Lebih indah bila perlahan
Satukan mauku dan maumu
Biar tak hilang, tak apa pelan


- ral 9/4/13 -

Wednesday, April 3, 2013

Jejak

Apa kabar di sana
Hai kamu yang telah hilang
Adakah kamu rasa
Rindu yang kini ku erang

Sesalku tiada berarti
Telah sia-siakanmu
Dua hati yang mencinta
Satu sosok yang mengalah

Tak pantaslah aku
Memanggil-manggil namamu
Saat kamu telah pergi
Tinggalkan rasa yang takkan terjadi

Tapi mengapa tak kau bawa juga
Rasa dan angan yang terkubur
Menorehkan luka rindu yang tak sampai
Membangunkan jiwa dari mimpi indah

Pantaskah ku merasa kehilanganmu
Menangisi rencana yang hanya rencana
Menghapus tawa dan canda
Mungkinkah masih kamu ingat semua?

- ral / 03 04 13 -

Tuesday, April 2, 2013

Legenda Sungai Perbedaan

(2025)

Vanny sedang berjalan-jalan di sekitar rumah barunya.
Ia mencapai sungai di halaman belakang rumahnya dan menemukan dua buah batu yang berseberangan.
Batu-batu tersebut dipenuhi tulisan-tulisan jaman kuno yang tidak ia mengerti.
"Selamat siang, nona cantik. Penduduk baru, ya?" sapa seorang nenek tukang sapu dengan ramah.
"Siang, Nek. Iya... Nek, ini batu apa ya?" tanya Vanny yang begitu penasaran.
"Oh, itu legenda di daerah sini. Nenek sudah mengumpulkan surat-surat asli dan merangkainya dalam tulisan, takut tak ada yang mewarisi kisahnya kalau Nenek meninggal. Tunggu ya, Nenek ambilkan untuk kamu," jelas nenek tersebut panjang.
Aku hanya bisa termangu, dan menunggunya kembali sambil kembali melihat-lihat keadaan sekitar.
"Ini dia, kamu bawa pulang saja dulu. Nenek selalu ke sini setiap hari, kalau kamu sudah selesai membacanya," kata nenek tersebut dengan tersenyum sambil memberikan sebuah buku tulis yang kumuh.
Aku berterima kasih dan segera pulang. Aku ingin segera membacanya.

***

(1299)

Jona tersayang, 
Kini aku mengerti kenapa kamu benci perbedaan.
Selama ini aku masa bodoh.
Aku kira perbedaan itu tak masalah.
Aku berteman dengan siapa saja, dan berbeda justru terasa menyenangkan.
Aku pikir kita bisa saling melengkapi.
Yang selama ini ku tau, toleransi adalah obat segala perbedaan.
Dan kita semua setara di mata Tuhan.
Lalu ku ingat cara kita berbeda.
Kita bisa bersatu, tapi bukan menjadi satu.
Mungkin persahabatan tidak mengenal beda.
Tapi cinta mengenalnya.
Tiap agama butuh seorang imam dalam keluarga.
Aku cinta keluargaku.
Dan mereka hanya mau imam seiman.
Kita, tak mungkin terjadi.

Untuk dosa yang paling ku suka.

Hapus segala angan kita,
Maura.

***

Untuk Maura tercinta, 
Aku harap kini kau mengerti kenapa aku benci perbedaan.
Selama ini aku selalu berhati-hati.
Aku tau perbedaan bisa menjadi masalah.
Aku ingin berteman dengan siapa saja, namun berbeda sering membuatku takut.
Lalu kau menghapusnya dengan mengajariku saling melengkapi.
Dan ku kira toleransi bisa membantu kita hidup dalam perbedaan.
Aku juga berpikir, kita setara di mata Tuhan.
Tapi aku selalu diingatkan, cara kita berbeda.
Kita tak bisa menyatu, walau hidup bisa satu.
Untuk bersahabat dengan siapapun sekarang aku bisa.
Tapi cinta, takkan bisa beda.
Agama butuh aku sebagai imam di keluarga.
Aku mencintai keluargaku.
Dan mereka takkan pernah setuju.
Kita, tak mungkin terjadi.

Untuk derita yang takkan terlupa.

Hentikan mimpi kita,
Jona.

***

Pada suatu masa, ada sebuah desa bernama Unifalsa. Desa tersebut dihuni oleh dua kelompok masyarakat yang berbeda kepercayaan. Meskipun begitu, mereka hidup dengan selaras dan damai, serta rukun dan saling membantu. Tidak terjadi diskriminasi atas perbedaan. Mereka bergaul dengan sangat bahagia dan bebas. Tetapi, ada satu peraturan pokok yang tak boleh dilanggar; Tidak boleh ada percintaan dari golongan berbeda.

Beratus-ratus tahun lamanya sudah peraturan tersebut terbentuk, sejak pertempuran antara Dewa Isman dan Dewi Kritan. Mereka adalah sepasang kesatuan dewa-dewi yang tadinya dipuja seluruh penduduk Unifalsa. Secara tak disangka terjadi pertengkaran hebat di antara mereka yang menyebabkan lahirnya 2 kepercayaan berbeda, yaitu  Ismania dan Kritania. Untungnya, malaikat-malaikat Unifalsa berhasil memadamkan pertempuran tersebut, sehingga semua dapat hidup dalam damai lagi, walaupun dengan alirannya masing-masing. Tak pernah ada yang berani melanggar peraturan tersebut. Semua generasi mensakralkan peraturan ini karena mereka takut membuat Dewa Isman dan Dewi Kritan murka.

Alkisah hiduplah seorang gadis yang baru beranjak dewasa, dari golongan Kritania. Namanya Maura. Ia adalah seorang yang menyenangkan, punya banyak teman, dan ramah pada siapa saja. Bersama teman-temannya yang sesama pecinta seni, ia belajar di Sekolah Seni Unifalsa. Maura mempelajari berbagai jenis seni dan piawai dalam berbagai bidang. Namun ada satu yang paling membuatnya jatuh cinta, yaitu seni tari.

Alkisah hidup pula seorang dewasa muda dari golongan Ismania, bernama Jona. Tak pernah ada yang tau masa lalunya, bahwa ia pernah jatuh cinta pada seorang gadis dari golongan Kritania. Dengan susah payah ia dapat melupakannya, dan sejak itu ia benci perbedaan. Ia dikenal sebagai sosok yang dingin, namun pandai membuat orang tertawa. Jona bekerja di Sekolah Seni Unifalsa, sebagai guru tari.

Maura adalah salah satu pentolan pada seni tari. Karena kecintaannya pada tarian, ia sering berlatih sendiri sepulang sekolah. Jona, yang melihat potensi muridnya itu, tidak segan-segan mengawasi Maura latihan sepulang sekolah dan membinanya untuk menjadi lebih baik lagi. Dan karena ternyata rumah mereka berada pada satu kawasan, maka Jona sering mengantar Maura pulang. Kedekatan mereka tak menimbulkan suatu keanehan apapun, karena pergaulan seperti ini memang lazim di Unifalsa. Kedekatan antar guru dan siswa, antar generasi dan golongan yang berbeda, sudah menjadi hal yang biasa di sini. Tak ada yang berbeda, kecuali hati mereka.

Tanpa disadari, seiring berjalannya waktu, Jona dan Maura semakin dekat saja. Maura tau bahwa Jona benci perbedaan. Tetapi Maura justru mengajarinya suatu nilai yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, yaitu saling berbagi dan melengkapi. Dari saling mengajari, di antara keduanya, tumbuh rasa rindu dan cemburu. Dan pula, tumbuhlah sebuah rasa yang terlarang; cinta.

Mereka menyadari betul bahwa perasaan mereka ini salah. Terlebih Jona, yang sudah pernah mengalaminya dan menguburnya dalam-dalam. Ia benci perbedaan, namun malah terjerumus di dalamnya. Jona berusaha menghapus rasanya pada Maura, namun sia-sia. Begitu pun Maura. Banyak lelaki Kritania yang mendekatinya. Namun tetap saja, hatinya tertuju pada Jona. Mereka tak bisa saling melepaskan, sehingga mereka menjalin cintanya diam-diam. Semakin banyak tawa bahagia dan kenangan indah yang mereka anyam berdua. Juga berbagai rencana gila yang menyenangkan.

Sayangnya, nampaknya rencana-rencana yang mereka bangun takkan terwujud. Kabar percintaan mereka tersebar di penduduk dan sampai ke telinga Dewa Isman dan Dewi Kritan. Para dewa-dewi murka dan membuat kekacauan di Desa Unifalsa. Usaha pemisahan Jona dan Maura melahirkan konflik besar yang menyebabkan adanya pertentangan antar golongan. Untuk menghindari tindak kekerasan, penduduk desa melakukan tata pendudukan ulang sehingga golongan Ismania bertempat tinggal di satu sisi, dan kelompok Kritania di sisi lainnya.

Tak terkira, kekuatan cinta Jona dan Maura tetap membangkang. Mereka masih sering mengendap-endap untuk bertemu melepas rindu. Sampai suatu ketika, Maura mengandung benih Jona. Semakin panaslah konflik antara kedua golongan. Dan penjagaan pun diperketat. Selama mengandung, Maura tak pernah bisa dijenguk ayah dari anaknya itu. 

Semakin hari, semakin lemah saja fisik Maura. Kandungannya membesar, sedang tubuhnya mengecil terus.
Tanpa saling mengetahui, ternyata Jona juga terserang sakit keras. Mereka berdua menyerah pada kematian, tepat di hari anak mereka lahir. Bayi tersebut dikutuk para dewa-dewi menjadi sungai yang membatasi daerah Ismania dan Kritania. Sungai tersebut diapit batu nisan kedua orangtuanya di masing-masing sisi. Penduduk setempat mengharamkan air sungai tersebut dan menamainya dengan "Sungai Perbedaan".

***

(2025)

"Ini, Nek. Terima kasih, ya. Ceritanya bagus banget! Aku jadi merinding sendiri, Nek kalau ke sini," kataku sambil mengembalikan buku tersebut di pinggir sungai.
"Bagus, ya? Itu versi ketiga karangan Nenek tentang batu dan sungai ini. Nanti kamu baca ya versi pertama dan keduanya, lalu beritahu Nenek yang mana yang paling bagus," kata nenek tersebut sambil tersenyum lebar.


-ral.

Tuesday, March 26, 2013

Sajak Iba

Sajak iba dari hatiku
Untuk diriku sendiri
Ingin ku maki jiwa ini
Yang serakah dan palsu

Aku ini piala berkarat di dalam
Indah rupanya beracun isinya
Diperebutkan para adam
Tak tau mereka akan aslinya

Dua ksatria beradu pedang
Untuk putri tak tau diri
Tak tau siapa yang menang
Hanya rahasia hati putri

Terkadang kenikmatan
Satu dayung dua pulau
Tanpa peduli keadaan
Terbuai rasa jadi ratu

Terkadang kegelisahan
Saat nurani bimbang
Antara makna kesetiaan
Atau ia yang berjuang

-ral / 26 03 13-

Monday, March 25, 2013

5 Things

Well waktu itu modul sastra. Gue lagi nggada ide buat nyoret-nyoret puisi dan sejenisnya jadi gue memutuskan buat bikin list serba lima.

5 Things I Love from Myself:
- My first name : Raviella
- My collarbones
- My belly button and my ears B)
- My nails
- My long tongue :P

5 Favorite Things:
- anything chocolate (bar, milk, ice cream, cake, etc)
- presents and gifts (anything, dari yg paling kecil sampe paling wow)
- purple stuffs
- animal print (I'm a huge fan of dalmatian!)
- surprises (anything unexpected is always fun)

5 Things I Hate The Most:
- Insects (especially spiders! Ga ngerti kenapa harus ada laba-laba di dunia)
- sofa / sejenisnya yang robek atau bolong
- sakit (karna itu bisa menghambat kegiatan dan bikin lemah)
- kotor (ya ga semua sih, ada bbrp jenis kotor yang gue gasuka)
- rencana gagal / batal / ngaret (apalagi kalo udh gua siapin sebaik2nya)

5 Indonesian Food I Love The Most:
- indomie
- gorengan (pisang, tempe, bakwan, otak-otak, mpek-mpek, cireng, pangsit) dan kerupuk kampung
- pisang tukang sayur
- yang berbumbu kacang (gado2 siomay batagor)
- mie ayam benyek

5 Non-Indonesian Food I Love The Most:
- Cucina Italiana! (pizza, pasta, gelatto etc)
- French Sweets (macaroons, creme brullee, souffle, crepes, etc)
- Japanese (sushi, sashimi, bento, ramen)
- Hindi (prata, kari, canai, nasi kebuli/briyani)
- American (burger, french fries, hotdog, marshmallow)

5 Food I Don't Wanna Eat:
- anything jahe
- jambu & nanas
- anjing (mereka temen, bukan makanan)
- semua seafood kecuali ikan (alergi)
- jeroan (hati, kikil, otak, usus, dll)

5 Favorite Drinks:
- air mineral
- susu (terutama rasa coklat)
- coffee & tea
- baileys B)
- fresh apple/banana/avocado/melon/orange/mango juice


5 Drinks I Hate:
- anything jahe
- jamu
- mizone dan other energy drink
- soda (especially cocacola)
- rebusan apapun


5 Favorite Animals:
- dogs (especially dalmatian!)
- big cats (tiger, lion, leopard, cheetah, jaguar, dll, terutama harimau putih)
- horse (terutama putih)
- reptil (terutama ular, pokoknya yang kulitnya keren)
- primata dan beruang

5 Activities I Love The Most:
- dancing and doing any kind of sports
- singing and playing guitar
- watching movies
- shopping
- laughing and hanging out :)

Paradoks Rasa

Adakah kamu melihat?
Melihat sesuatu yang bahkan tak pernah berwujud.

Dapatkah kamu mendengar?
Mendengar sesuatu yang bahkan tak pernah berbunyi.

Maukah kamu mengungkapkan?
Mengungkapkan sesuatu yang bahkan tak pernah terangkai kata.

Bisakah kamu mengerti?
Mengerti sesuatu yang bahkan tak pernah masuk akal.

Relakah kamu melepaskan?
Melepaskan sesuatu yang bahkan tak pernah kau genggam.

Taukah kamu merasa kehilangan?
Kehilangan sesuatu yang bahkan tak pernah jadi milikmu.

Pernahkah kamu merindu?
Merindukan sesuatu yang bahkan tak pernah pergi.

Ya, dia tak pernah pergi.
Karna dia memang tak pernah menetap sebelumnya.


-ral-
21-3-13

Saturday, March 23, 2013

Super Day

yup, hari ini super banget! asli gue seneng luar biasa yes :D
first of all, hari ini dimulai dengan pelajaran olahraga.
tau? kelas gue adalah satu-satunya kelas di angkatan yang dapet jadwal olahraga minggu ini.
Dan, ternyata sekolah baru masukin permainan olahraga baru, yaitu Floor Ball.
Itu kayak main hoki gitu, tapi ini di lapangan bukan di es, dan pake lari ngga pake sepatu roda atau apapun.
Dengan segala peraturan yang dijelaskan guru olahraga bernama Wardi, kita pun mainlah.
Gue mencetak gol pertama lalu ga ngitung lagi deh pokoknya seru banget mainnya suka banget!
Akhirnya tim gua pun menang :D
Terus yang bikin gua kesel adalah, kenapa ini permainan baru ada waktu gua mau lulus????
udah gitu kata guru gua ntar bakal ada pembinaannya! Men!!!
GUA MAU IKUT!
nahhh, terus, mungkin karna ini yang ngomong si Wardi, jadi terdengar sepele yah.
Tapi gue seneng aja dinobatkan sebagai best player :D

Lalu pelajaran dilanjutkan dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.
Nah enak banget nih, tumben kita cepet selesai jadi gue punya banyak waktu nganggur di kelas, bisa cerita-cerita nyanyi-nyanyi dan lainnya.
Dan yang gue suka dari hari Sabtu, bisa liat ekskul modern dance sambil makan.

Lalu, pulang sekolah, Pumpkinetic dapet jadwal foto buat yearbook. 
kita mulai dah tuh, ribet ganti baju rombeng biru-oren andalan kita.
kita ambil 7 piala hasil lomba kita.
Terus mulai deh tuh foto-foto.
I'm so proud to be a member of Pumpkinetic!
Walaupun katanya guru-guru menegur lalalala karna kita pake perut-perutan di sekolah, 
well gua ga peduli syih nyahaha maaf yah ibu-ibu.

terus setelah itu gue dan tessa ujan-ujanan nih bawa berat gembolan-gembolan kaya kabayan pulang kampung, nyebrang ke nusa loka. Terus kita taro tas di O2 lalu makan mie sama Achuy juga.
Sambil makan kita cerita-cerita seru.
Setelah itu gue balik ke O2 karna ada kelas, sedangkan mereka masih nongkrong di warung depan.

Hari ini Ka Adit diganti sama Ka Lutfi.
Well kita ngulang koreo sama diajarin slowmotion and it's cool B-)
Lalu dikasih fun choreo and I like it :D

Now....... this is the best part!

Setelah kelas gue dijemput Rayon terus gue sama dia ke The Gym, Bintaro.
Kita kesana karna kita mau gantiin ngajar.
Harusnya itu kelasnya Achuy dan Ka Adit, tapi berhubung Ka Adit lagi ke Singapore dan Achuy lagi sakit, jadi digantiin.
Di sana udah ada Tessa yang ngajar kelas jam 3-4 yaitu umur 3-7 tahun (dia yang minta dimention namanya).
Gue dan Rayon tiba jam 4 tepat yang artinya gue telat dikit buat kelas gue yang jam 4!
Oke gue buru-buru dan Tessa sudah memimpin pemanasan kelas gue, umur 7-12 tahun.
Oke lalu gue lanjutin tuh kelas.
And, I enjoy it so much!!!!
Pertama para anak-anak kaya malu-malu gitu. Tapi mereka pada pinter-pinter narinya :3
So cuteeeeeeeeeeeeeeee!
Terus udah kan akhirnya udahan, terus gantian lah kelasnya Rayon, break dance.
Awalnya gue sama Tessa cuma ngeliatin dari pinggir, terus Tessa ngajak ngeliat gymnastic room nya.
Akhirnya kita ke sana dan WOW!
itu ruangan ter-pewe ter-nyaman ter-enak yang pernah gue temuin.
gua mau deh kamar gue begitu.
banyak alat-alat gymnastic kayak tiang buat atraksi, hulahoop, dll deh.
terus itu ada area yang lantainya itu karpet, keras tapi kalo jatoh empuk. enak banget!
Terus ada juga semacam kolam tapi isinya busa, ada juga trampolin.
Gua langsung petakilan tuh sok kenal sok deket sama mas yang jaga di situ, yang ternyata juga gymnastic.
Lalu gua salto-salto ke kolam busa, terus belajar salto di trampolin, handstand headstand di lantai empuk, ampun deh pewe banget itu tempat. ngga sakit sama sekali kalo jatoh!

Nah terus gue dan Tessa balik lagi ke kelas, nemenin Rayon.
Eh ternyata muridnya banyak, si Rayon agak keteteran gituu.
Awalnya gue pengen bantuin tapi ga enak interrupt kelasnya Rayon.
Tapi akhirnya dia manggil gua juga buat bantuin hahaha.
Terus gue ngajar-ngajar gitu kan, muridnya sama kayak yang gua ajar tadi ternyata, cuma ditambah murid-murid lain.
Terus kan lagi belajar chair freeze, yaudah gue bantuin ajarin kan.
Nah terus pas gue ngajarin, yang satu ada yang "Kaaak, gimanasihhh?"
lalu ada yang "Kakkk aku juga mau dong gimana yaa?"
ada juga yang "Kak susah deh iniii"
terus ada juga yang "Kak aku juga mau dong diajariin"
terus gua udah mulaui "Awwwww they're so adorable!" tp dalem hati aja hehehe.
Terus yaudah kan gue ajarin tuh satu-satu yang mau.
Terus tiba-tiba ada yang ngomong "Kak, you're so beautiful" gue langsung "Aww, makasih yaaaa :3" gitu terus ada yang megang pipi gua bilang "Kakak chubby deh hihihi" terus gue yang "hihi kamu jugaaa" aduh lucu banget deh ga kuat!!!
Terus pada ngajak ngobrol gitu nanya nama, sekolah, rumah, gitu-gitu deh.
Pada nanya kenapa celana kita banyak yang sama, O2 itu apa, dimana, gitu-gitu deh!
Terus lucu bangeeet pas Rayon ngumpulin anak-anak mau ngasih pengumuman, ada yang "Kak, ayo sini ikuuut" sambil narik tangan gue awww lucuuuu!
Terus ada lagi yang megang-megang tangan gue terus bilang gitu "Kaaak, pinggang aku sakit deh kalo madep siniii" terus gue suruh stretching gituuu.
Terus yang paling aww banget tuh ada yang nanya gini, "Kak, kakak sekarang ngajar kita ya?"
gue jawab "Enggak aku cuma gantiin Ka Arthur ajaa," terus yang lainnya bilang "Minggu depan dateng nggak?" terus gue "Enggak doong, soalnya kan aku gantiin karna Ka Arthur sakit ajaa," terus yang lainnya ngomong "Yaaah, kenapaa? Dateng dong kaaak" terus yang lainnya "Iya Kaak, stay kak, stay." terus ada yang "iya Kak, stay pleasee" terus gue yang "awwwww!" dalem hati aduh unyu bangetttt!
akhirnya gue bilang "yaudah ntar kalo Ka Arthur ngajar, kalo aku bisa aku ikut deh yaa," terus mereka yang "yeaay oke kak!" LUCUUUUU
Setelah itu kita masih ngobrol-ngobrol gitu kayak masih sharing bisa apa ajaa, eh terus gue disuruh handstand sama ini bocah-bocah ucul.
terus gue bilang kan "aku juga baru-baru sih belajarnyaa" soalnya gue emang belom bisa stabil di atas gitu.
Eh untungnya pas gue mau handstand pada bilang "Kak bisa handstand langsung kayang gaak?" dan itu yang emang gua bisa! hahaha akhirnya gua handstand terus jatoh kayang kan, terus pada mau-mau gitudeh aduh lucu deh pokoknya. terus mereka tu pinter-pinter banget, gue inget ada yang namanya Audrey, itu pinter banget!
udah lentur, cepet nangkep gerakan, cepet bisa kalo diajarin, terus dia kayak selalu outstanding di kelas-kelas yang dia ambil. hiphop lah breakdance lah gymnastic juga!
Eh terus tiba-tiba dia koprol bagus banget bentuknya, minder sendiri gua hahaha!
Terus pada split-split gituuuu mati guaa haha.
Terus ada yang nanya "kakak bisa split gak?"
gue jawab "dulu aku bisa, tapi aku pernah cidera jadi nggabisa lagi deh"
terus mereka pada curious "ih kok bisa kak?" "Ih cidera gimana kak?" "robek ato gimana tu kak?" 
"Kok bisa kaak?" "kenapa kak?" yeaaaa
terus gue kan takutnya mereka malah jadi ga berani nyoba-nyoba gerakan gitu, terus gue bilang
"Nih, kalian biasanya selalu pemanasan kan? Nah waktu itu aku nggak pemanasan, main hajar aja tuh mau split-split dan lain-lain, cidera deh. makanya kalian kalo pemanasan itu harus yang bener, soalnya penting banget buat berikutnya.
Terus pada yang muka ngerti dan tanda-tanda mereka mau mendengarkan gua :'')
Aduh gitu deh lucu bangeeeet!

Abis dari The Gym kita ke Taman Jajan BSD nyusulin Achuy sama Ci Inez. 
Terus nggak lama Ka Lutfi dateng.
Akhirnya kita semua ngobrol sharing-sharing gimana rasanya pengalaman ngajar gitu-gitu.
Seru abissss!
I wanna teach em again!! :3 :3


-ral-
23-03-13